Jakarta,GPriority.co.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, fenomena musim hujan yang tiba lebih awal di Indonesia terjadi karena La Nina Triple Dip.
La Nina merupakan fenomena mendinginnya suhu permukaan laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur di bawah kondisi normal. Karena SML dingin di Samudra Pasifik bertemu SML hangat di perairan Indonesia, maka berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia secara umum.
Hal itulah yang dapat mempengaruhi pola cuaca dan iklim di Indonesia. Salah satu dampak fenomena La Nina Triple Dip dapat menyebabkan sebagian wilayah Indonesia mengalami musim hujan lebih awal.
Fenomena La Nina Triple Dip diketahui akan terjadi selama tiga musim berturut-turut. La Nina diketahui muncul pada musim hujan pertengahan 2020 dan akan kembali pada musim hujan awal tahun 2023.
Fenomena La Nina Triple Dip sebelumnya juga pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1973-1975 dan tahun 1998-2001.
“Triple Dip La Nina adalah fenomena unik. Masyarakat dan Pemerintah Pusat hingga daerah perlu mewaspadai terjadinya bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, bandang, angin kencang, cuaca ekstrem, dan tanah longsor,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam pernyataan resminya, Minggu, (16/10).
Dwikorita menambahkan bahwa pola cuaca La Nina adalah salah satu dari tiga fase El Nino Southern Oscillation (ENSO). ENSO merupakan fenomena laut-atmosfer yang terjadi secara berkala dan tidak teratur yang melibatkan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik.
ENSO mengacu pada suhu permukaan laut dan arah angin di Pasifik yang dapat beralih antara fase hangat yang disebut El Nino dan fase lebih dingin yang disebut La Nina, serta fase netral.
“Yang perlu juga diwaspadai adalah penyakit yang biasa muncul di musim hujan, mulai dari diare, demam berdarah, Leptospirosis, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit, dan lain sebagainya. Semua harus bersiap,” tambahnya. (Hn.)
