Jakarta, GPriority.co.id – Perumda PAM Jaya terus bergerak cepat mengejar target layanan air perpipaan 100 persen bagi warga DKI Jakarta.
Hal itu disampaikan Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin dalam forum Balkoters Talk bertajuk ‘Implementasi Smart Water Management untuk 100 Persen Layanan Air Jakarta’, di Pressroom Balaikota, Jumat (19/9).
Arief mengatakan, sejak pengambil alihan pengelolaan dari swasta pada Februari 2023, PAM Jaya sudah menambah 124 ribu sambungan rumah tangga.
“Target yang dipatok Gubernur sampai 2029 mencakup pembangunan 7.000 kilometer pipa. Dampaknya menimbulkan kemacetan karena memang tidak bisa lagi tidak menggunakan badan jalan,” kata Arief.
Menurutnya, penyediaan air baku di Jakarta masih jadi tantangan besar. Bendungan Karian yang dijanjikan Kementerian PUPR belum bisa berkontribusi. Padahal, 85 persen pasokan air Jakarta masih bergantung dari luar daerah, termasuk Jatiluhur.
“Tapi pesan Pak Gubernur jelas jangan bergantung pada satu sumber. Kami cari alternatif, bahkan ke Banten,” ujar Arief.
Tantangan lain adalah kondisi jaringan pipa yang sudah tua. Sebanyak 70 persen pipa berusia 25ā40 tahun, banyak yang bukan food grade sehingga rawan bocor. Akibat kebocoran itu, kerugian diperkirakan mencapai Rp1 triliun per tahun.
Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Firdaus Ali menegaskan bahwa transformasi tata kelola air di ibu kota sudah mendesak dan tidak bisa ditunda.
“Air adalah sumber kehidupan. Hampir semua kitab suci menyebut air sebagai lambang surga. Namun ironinya, Jakarta dengan 13 sungai dan 76 anak sungai, tak satu pun yang layak jadi air baku. Semua tercemar limbah,” kata Firdaus.
Dia juga menyoroti rendahnya cakupan layanan air perpipaan di Jakarta. Secara nasional cakupan air perpipaan baru 20 persen, sedangkan Jakarta sendiri masih di bawah 50 persen.
“Pipanya ada, tapi airnya sering tidak mengalir,” ujarnya.
Firdaus juga mengingatkan tingginya tingkat kehilangan air atau non revenue water (NRW) di Jakarta, yang mencapai 45-47 persen. Angka itu disebutnya sebagai salah satu yang terburuk di dunia bagi kota dengan populasi di atas lima juta jiwa.
“Tantangan PAM Jaya tidak ringan, memperluas layanan sekaligus menekan kebocoran masif ini,” ungkapnya.
Pewarta : Fifi Abdurahman
