Pantau Stabilitas Harga Bapok Awal Tahun di Pasar Palmerah, Mendag: Harga Cabai Lumayan Menurun

Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan mengunjungi Pasar Palmerah, Jakarta pada Kamis (4/1). Kunjungan itu untuk memantau keseimbangan harga dan ketersediaan kebutuhan bahan pokok (Bapok) awal tahun 2024.

Dalam pantauan GPriority.co.id di lokasi pasar Palmerah Jakarta Pusat, Menteri yang sering akrab disapa Zulhas itu tiba bersama beberapa jajarannya sekitar pukul 08.00 WIB.

Lebih lanjut, Zulhas memantau situasi pasar dan mengecek harga ayam per potongnya dan menanyakan kepada beberapa pembeli berapa harga satu ekor ayam yang biasanya dijualnya oleh pedagang di pasar Palmerah.

“Untuk harga ayam ada yang Rp 30.000, Rp 35.000 ada yang Rp 50.000, cuma yang harganya Rp 50.000 sudah habis,” ucap pedagang ayam Ika (30).

Pada saat yang sama, penjual daging ayam tersebut juga menyatakan bahwa harga ayam selama empat bulan terakhir telah tetap harga yang stabil.

“Hanya kemarin tiga hari jelang tahun baru naik, soalnya pemasoknya tutup jadi stoknya terbatas,” tambahnya.

Setelah mendengar respons tersebut, Zulhas mengangguk-angguk dan kemudian menyapa beberapa ibu yang tengah berbelanja daging. Setelah itu, dia melanjutkan untuk memeriksa harga cabai dan bawang, dua bahan pokok yang sebelum Natal dan tahun baru 2024 sempat mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai Rp 100.000.

Kemudian dalam waktu yang sama, Zulhas mengajukan pertanyaan tentang harga bahan pokok bawang dan cabai kepada seorang pedagang yang diketahui bernama Maya (32) tahun.

“Berapa ini bu sekarang harganya?” tanya Zulhas.

“Bawang Rp 45.000, cabai dari petani Rp 50.000, (dijual) Rp 70.000, kalau yang itu (cabai rawit) Rp75.000 pak,” jawab Maya.

Selanjutnya, Zulhas bertanya mengenai asal-usul pedagang tersebut mendapatkan bahan pokok tersebut. Maya mengungkapkan bahwa dia memperoleh persediaan bawang merah dan putih dari Brebes, Jawa Tengah. Sementara itu, untuk cabai, dia menyatakan mendapatkannya dari Pasar Induk, Kramatjati.

“Untuk bawang dari brebes pak, kalau cabai kita ngambilnya di Kramatjati,” ungkapnya.

Walaupun terjadi penurunan harga cabai, Zulhas menyatakan bahwa harga tersebut masih dianggap tinggi, mengingat harga cabai di Aceh saat ini sedang rendah karena sedang berlangsung panen raya.

Dia mengaku bahwa kenaikan harga cabai disebabkan oleh biaya pengiriman dari daerah ke Jakarta yang lumayan cukup tinggi.

“Oh, gitu. Sekarang di Aceh lagi panen raya. Dari Aceh, Nusa Tenggara Barat, sudah murah harga cabainya, memang ongkosnya yang mahal ke sini,” ucap Zulhas.

Selanjutnya, Zulhas melanjutkan dengan menanyakan harga jual bahan pokok lain, yaitu telur dan beras, kepada seorang pedagang bernama Rudi. Menurut Rudi, harga telur per kilogram mengalami kenaikan sebesar Rp 1.000, menjadi Rp 27.000, dibandingkan dengan harga akhir tahun lalu yang masih sekitar Rp 26.000.

“Sekilo Rp27.000 pak, naik seribu harga telur,” ungkap pedagang telur Rudi.

Zulhas menyimpulkan bahwa harga tersebut masih terkendali dengan stabil, mengingat pemerintah menetapkan harga telur sebesar Rp 28.000.

“Iya aman itu kalau dari pemerintah itu Rp28.000,” ungkap Zulhas.

Sementara itu, ketika mendekati para pedagang beras, Zulhas disambut dengan antusiasme baik dari para pedagang beras, lantaran para pedagang beras mengakui gembira karena mereka menyebut harga beras tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan, meskipun belum ada penurunan.

Sebagai informasi, beras seberat 50 Kg dijual dengan harga Rp 550.000, menurut Zulhas, harga tersebut stabil dan tidak mengalami kenaikan sedikit pun.

“Stabil, harga beras stabil, ga naik lagi cuma turun belum. Terima kasih, ya,” ujar pedagang beras.

Foto: Hilal