Penampang Karya Seni Rupa Galeri Nasional di Indonesia

Jakarta,gpriority-melalui Zoom Webinar dan Live Facebook Galeri Nasional Indonesia (GNI)
menggelar acara Bedah Buku bertajuk “Penampang Karya Seni Rupa Galeri Nasional di Indonesia”.

Kepala GNI, Pustanto menuturkan, penyusunan dan penyebarluasan informasi dalam buku tersebut merupakan bentuk realisasi dari tugas dan fungsi GNI terkait pengkajian, pendokumentasian, edukasi, serta publikasi.

Kurator GNI Suwarno Wisetrotomo yang menjadi penulis buku tersebut mengatakan, GNI selain sebagai sebuah ruang galeri juga merupakan museum seni rupa yang merepresentasikan jejak seni rupa, terutama seni rupa modern dan kontemporer yang merepresentasikan perkembangan dan pencapaian para perupa level nasional, regional, internasional, berikut jejaring yang dibangun.

“GNI adalah wajah Indonesia dalam aspek budaya, khususnya melalui artefak dan aktivitas seni rupa. Dalam konteks GNI sebagai museum seni rupa inilah buku tersebut ditulis,” ucap Suwarno.

Buku ini merupakan pengembangan dari naskah kurasi Pameran Seni Rupa Melacak Garis Waktu dan Peristiwa – Penampang Karya Seni Rupa, Koleksi Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang ditulis Suwarno pada 1997.

Pameran yang dikuratorinya tersebut digelar pada 23 Februari23 Maret 1998 di Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang kini menjadi Galeri Nasional Indonesia. Pameran tersebut menandai hari ulang tahun ke-11 Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud, sekaligus untuk memulai mendorong diresmikannya institusi Galeri Nasional Indonesia. “Itulah untuk pertama kalinya koleksi negara itu diteliti, dikurasi, dan dipamerkan (sebagian) di ruang publik, ungkap Suwarno.

Naskah kurasi tersebut menurut Suwarno merupakan embrio lahirnya buku “Penampang Karya Seni Rupa Galeri Nasional di Indonesia” sebagai risalah penampang uraian perihal wilayah permukaan koleksi GNI dengan segenap tekstur-teksturnya.

Tekstur yang dimaksud adalah detail-detail penampang, baik aspek periode maupun tema atau gaya. Pendek kata, buku ini mengatakan, betapa koleksi Galnas itu ‘penting’ dalam konteks sebagai penanda perjalanan seni rupa Indonesia dan kaitannya dengan sejarah keindonesiaan,” katanya. Karena koleksi GNI itu penting dan menjadi sumber pengetahuan, maka menurut Suwarno, GNI perlu menjadi prioritas untuk dibangun, baik dalam aspek infrastruktur yang memadai atau memenuhi syarat sebagai galeri nasional” maupun aspek level struktural.

Disambung Pustanto, karena koleksi GNI itu penting dan menjadi sumber pengetahuan, maka buku ini juga menjadi salah satu upaya GNI dalam memroduksi sekaligus menyebarkan pengetahuan mengenai sejarah dan budaya melalui koleksi karya seni rupa yang dikelola GNI. Melalui buku ini, akan tampak pengetahuan mengenai pemetaan koleksi Galeri Nasional Indonesia dalam peta perkembangan sejarah Indonesia dalam konsep pemikiran dan penciptaan seni rupa Indonesia.

“Semoga buku dan program bedah buku ini dapat menjadi dasar adanya kajian-kajian lainnya yang lebih mendalam tentang koleksi GNI, dilihat dari berbagai aspek untuk menyusun dan melengkapi sejarah seni rupa Indonesia, tutup Pustanto.(Hs.dok.Galnas)

Related posts