Penelitian: Periode Paling Melelahkan Terjadi di Usia 40-an

Ilustrasi orang tua yang merasa kelelahan/Foto : Dok. Freepik Ilustrasi orang tua yang merasa kelelahan/Foto : Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Para peneliti telah menemukan bahwa periode paling melelahkan dalam hidup kita datang setelah kita berusia 40 tahun.

Dilansir dari laporan WIO News Rabu (11/2), pada usia ini meskipun tubuh tidak semuda saat usia 20-an, tuntutan hidup masih sangat tinggi. Terlebih jika memiliki anak yang masih perlu dibesarkan dan adanya pekerjaan yang harus dilakukan.

Menurut Profesor Michelle Spear, seorang ahli anatomi dari Universitas Bristol, ini bukan hanya tentang bertambah tua, tetapi terkait dengan beberapa perubahan biologis kecil yang terjadi secara bersamaan. Dia mengatakan kepada Daily Mail bahwa “kelelahan paruh baya” ini adalah hasil dari “ketidaksesuaian antara usia dan tuntutan”.

Ia mengatakan bahwa meskipun tubuh kita masih memproduksi energi pada usia ini, prosesnya tidak sama seperti pada saat kita berusia 20-an. Proses tersebut terjadi dalam kondisi yang berbeda dibandingkan pada masa dewasa awal, sementara tuntutan terhadap energi tersebut seringkali mencapai puncaknya.

Namun, ia menyatakan bahwa ketidakseimbangan biologis ini, yang menguras energi kita, hanya bersifat sementara. Tetapi hal itu cukup untuk membuat kita merasa lelah dan lesu, lebih dari waktu lain dalam hidup kita.

Spear menambahkan bahwa pada usia 40-an, kita mengalami perubahan seluler. Pada usia 20-an, mitokondria, bagian sel kita yang bertanggung jawab untuk menghasilkan energi, melakukannya dengan cara yang mengurangi pemborosan energi dan mengurangi produk sampingan inflamasi.

Jadi, meskipun Anda tidak banyak berolahraga atau tidur larut malam, tubuh tidak terlalu terpengaruh. Namun, aktivitas yang sama pada usia 40-an akan berdampak buruk karena perubahan fisik yang perlahan mulai terjadi.

Kendati tubuh memproduksi energi secara terus menerus, kita akan merasa lelah karena tubuh menggunakan lebih banyak energi. Latihan kekuatan adalah salah satu cara efektif untuk mencegah kehilangan otot dan mengurangi dampak kondisi ini.

Aspek lain adalah perbedaan bagaimana stres dan kurang tidur memengaruhi kita di usia 40-an dibandingkan dengan usia 20-an atau 30-an. Masalahnya semakin diperparah dengan kenyataan bahwa mendapatkan tidur malam yang nyenyak menjadi sulit seiring bertambahnya usia.

Anda perlu tidur nyenyak untuk merasa berenergi, namun tidur sulit didapatkan, sehingga menjadi masalah yang sulit diatasi.

“Perubahan hormonal, khususnya fluktuasi estrogen dan progesteron pada wanita selama perimenopause, secara langsung memengaruhi area otak yang mengatur kedalaman tidur dan suhu tubuh,” ujar Profesor Spear.

Respons stres tubuh kita menjadi lebih aktif seiring bertambahnya usia, yang menyebabkan kortisol meningkat di malam hari alih-alih menurun, membuat kita merasa kurang istirahat.

Bersamaan dengan itu semua, orang-orang di usia 40-an menghadapi beban kognitif dan emosional yang sangat besar karena semua tanggung jawab yang ada. Jadi Anda kelelahan secara fisik dan mental karena semua pekerjaan dan tubuh Anda tidak mendukung Anda.

“Kelelahan di usia paruh baya, khususnya, sering kali mencerminkan beban kumulatif daripada penuaan itu sendiri,” pungkas Spear.