Penelitian Ungkap Alasan Kentut Wanita Lebih Bau dari Pria

Penelitian Ungkap Alasan Kentut Wanita Lebih Bau dari Pria/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Penelitian Ungkap Alasan Kentut Wanita Lebih Bau dari Pria/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kentut wanita lebih baru dari pria. Dilansir dari NY Post, penelitian ini dilakukan oleh Dr. Michael Levitt, seorang ahli gastroenterologi dan peneliti produktif, pada tahun 1998 silam.

Dalam penelitian tersebut, Levitt merekrut 16 orang dewasa sehat yang tidak memiliki riwayat masalah gastrointestinal. Masing-masing responden tersebut dipasang sistem pengumpulan flatus.

Sebelumnya, para responden diminta memakan kacang pinto dan meminum obat pencahar. Peneliti kemudian mengumpulkan kentut mereka dalam sebuah kantong. Bersama peneliti lainnya, Levitt menganalisis kromatografi gas untuk menguraikan apa sebenarnya isi dari kantong-kantong tersebut.

Dalam penelitiannya, para peneliti juga melakukan uji penciuman pada sampel kantong yang telah dikumpulkan. Mereka menemukan, gas utama yang terkandung dalam bau kentut manusia adalah senyawa yang mengandung sulfur terutama hidrogen sulfida, zat kimia di balik bau busuk pada kentut.

Peneliti juga menemukan, walaupun pria cenderung mengeluarkan kentut lebih sering, namun kentut wanita mengandung konsentrasi hidrogen sulfida yang jauh lebih tinggi ketimbang pria.

Para peneliti sepakat bahwa kentut wanita memiliki intensitas bau yang lebih besar daripada kentut pria.

Meskipun hidrogen sulfida dalam jumlah besar sangat beracun, namun dalam dosis kecil, ternyata zat tersebut dapat melindungi sel-sel otak yang menua terhadap penyakit Alzheimer.

Di dalam tubuh, hidrogen sulfida berfungsi juga untuk membantu sel-sel otak mengubah protein secara kimiawi dalam proses yang disebut sulfhidrasi. Penelitian menunjukkan, kadar sulfhidrasi menurun seiring bertambahnya usia yang banyak ditemukan pada penderita Alzheimer.

Dalam sebuah studi di tahun 2021, para peneliti di Johns Hopkins Medicine melakukan eksperimen pada tikus yang direkayasa secara genetik untuk meniru penyakit Alzheimer manusia. Mereka menyuntikkan tikus tersebut dengan senyawa pembawa hidrogen sulfida yang disebut NaGYY, dan memantau perubahan memori serta fungsi motorik tikus selama 12 minggu.

Dalam pengujian ditemukan bahwa hidrogen sulfida mampu meningkatkan fungsi kognitif dan motorik hingga 50 persen dibandingkan tikus yang tidak diobati. Tikus yang disuntik NaGYY juga terlihat lebih aktif secara fisik.