Pernah Dibully Semasa Kecil, Victoria Beckham Ungkap Derita Diskalkulia

Victoria Beckham saat tampil di podcast "Call Her Daddy", Rabu (22/10) lalu/Foto : Dok. YouTube 'Call Her Daddy' Victoria Beckham saat tampil di podcast "Call Her Daddy", Rabu (22/10) lalu/Foto : Dok. YouTube 'Call Her Daddy'

Inggris, GPriority.co.id – Istri pesepakbola David Beckham, Victoria Beckham, belum lama ini menceritakan masa kecilnya ketika ia pernah dibully oleh teman-temannya.

Victoria mengatakan, saat masih kecil dirinya sangat kesulitan mengejar prestasi akademik. Bahkan dirinya mengaku mengidap diskalkulia.

“Saya mendiagnosis diri saya sendiri sebagai disleksia. Saya juga menderita diskalkulia. Semua hal tidak saya kenali saat kecil. Mereka memanggil saya ‘bodoh’,” ujar wanita yang juga berprofesi sebagai perancang busana tersebut saat tampil di podcast “Call Her Daddy”, Rabu (22/10) lalu.

Wanita berusia 51 tahun tersebut menggambarkan dirinya sebagai anak yang tak pandai bersosialisasi. Dirinya lebih fokus pada pelajaran menari dan drama, ketimbang bergaul dengan teman-teman sekelasnya. Mengenang masa kelamnya saat kecil, Victoria menyebut teman-teman sekelasnya pernah melemparkan kaleng minuman ke arahnya saat sedang bermain di taman.

“Seluruh kehidupan sekolah saya menyedihkan,” ungkap mantan anggota Spice Girl itu.

Lalu sebenarnya, apa itu diskalkulia yang diderita Victoria Beckham? mengutip dari laporan NY Post, diskalkulia merupakan gangguan belajar yang mengganggu selama bertahun-tahun, sehingga pengidapnya butuh perjuangan yang tak mudah.

Sementara itu, Cleveland Clinic menyebut diskalkulia ialah gangguan belajar yang membuat seseorang sulit memahami dan bekerja dengan angka dan matematika. Meski para ilmuwan tak tahun pasti penyebabnya, namun penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengidap diskalkulia sering kali memiliki perbedaan di area otak seperti lobus parietal dan frontal yang menangani pemrosesan angka.

Menurut penelitian, gangguan ini bisa terjadi secara genetik. Sementara itu, penelitian lain menyebut jika diskalkulia bukan gangguan belajar, melainkan terjadi karena kerusakan otak yang mempengaruhi kemampuan matematika pengidapnya.

Meski orang-orang lebih mengenal disleksia dibandingkan diskalkulia, namun hingga saat ini sebanyak 7 persen anak sekolah dasar di Amerika Serikat dilaporkan mengidap gangguan tersebut. Bahkan 40 persen anak-anak mengalami kesulitan membaca juga kesulitan dalam matematika (gabungan disleksia dan diskalkulia).

Tanda utama orang yang mengidap diskalkulia ialah sering mengalami kecemasan, depresi, atau stres lainnya saat berhadapan dengan angka. Meski tidak ada obatnya, namun melibatkan guru private matematika dapat membantu anak untuk mempelajari angka dengan lebih efektif.

Sementara bagi orang dewasa, diskalkulia tidak dapat diobati karena otak mereka telah berkembang sepenuhnya.