Kim Kardashian Derita Aneurisma Otak, Stres Jadi Pemicunya!

Kim Kardashian Derita Aneurisma Otak, Stres Jadi Pemicunya!/Foto : Dok. Instagram @kimkardashian Kim Kardashian Derita Aneurisma Otak, Stres Jadi Pemicunya!/Foto : Dok. Instagram @kimkardashian

Amerika Serikat, GPriority.co.id – Model dan sosialita Amerika Serikat Kim Kardashian, belum lama ini mengungkapkan jika dirinya menderita aneurisme otak.

Melalui episode pertama reality show-nya, “The Kardashians” musim ke-7, Kim bertanya kepada dokternya tentang penyakitnya tersebut.

Dokternya menyebut, aneurisma otak bisa dipicu oleh stres. Kim lalu menceritakan masalah perceraiannya dengan sang mantan suami, Kanye West, yang membuat hidupnya penuh gejolak.

“Saya merasa lebih stres. Mungkin karena saya harus melindungi anak-anak saya. Semua orang bisa mengatasinya. Tapi saya hanya ingin melindungi anak-anak saya,” ungkap Kim.

Perlu diketahui, aneurisma otak adalah kondisi dimana titik lemah pada arteri di dalam atau sekitar otak menggembung dan terisi darah, hingga bisa pecah tiba-tiba.

Menurut laporan NY Post, di Amerika Serikat sekitar 6,8 juta orang menderita penyakit tersebut. Namun banyak dari mereka yang tak menyadarinya hingga aneurisma tersebut pecah hingga menyebabkan penyakit lainnya.

Kebanyakan aneurisma otak berukuran kecil dan tidak menimbulkan masalah. Namun, ketika tonjolan tersebut menekan struktur di sekitarnya seperti saraf mata, kondisi ini mulai mengkhawatirkan.

Gejalanya antara lain seperti nyeri di atas atau di belakang salah satu mata, pupil mata membesar, perubahan penglihatan, hingga mati rasa di salah satu sisi wajah dan kejang.

Gejala lainnya seperti sakit kepala, leher kaku, mual dan muntah, rasa kantuk yang berlebihan, penglihatan kabur, tingkat sensivitas terhadap cahaya meningkat, keseimbangan bermasalah, hingga pingsan.

Apabila tonjolan semakin membesar dan dinding pembuluh darah menjadi terlalu tipis, aneurisma tersebut dapat pecah dan menyebabkan pendarahan otak yang juga dikenal dengan stroke hemoragik, sebagaimana dilansir dari Mayo Clinic.

Aneurisma otak yang pecah dapat berakibat fatal hingga menyebabkan kematian karena cedera otak masif akibat pendarahan awal. Sementara bagi mereka yang selamat, sekitar dua pertiga menderita kerusakan otak permanen dan masalah neurologis.

Di seluruh dunia, aneurisma otak menyebabkan hampir 500.000 kematian setiap tahunnya, dengan setengahnya berusia di bawah 50 tahun. Kendati demikian, aneurisma lebih umum terjadi pada wanita dan sebagian besar menyerang orang dewasa berusia antara 30-60 tahun.

Meski berkaitan dengan faktor genetik, namun gaya hidup juga berperan memicu penyakit ini. Mulai dari merokok, minum alkohol berlebihan, penggunaan narkoba, tekanan darah tinggi, hingga riwayat cedera kepala yang dapat meningkatkan peluang seseorang mengidap penyakit tersebut.