Jakarta, GPriority.co.id – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menanggapi candaan Gubernur Jakarta, Pramono Anung, yang mengatakan dirinya lebih mengutamakan kinerja pikiran dan otak daripada masuk ke gorong-gorong.
Anggota Komisi D DPRD DKI Fraksi PSI, Bun Joi Phiau, menekankan pentingnya pemimpin melihat langsung kondisi di lapangan, terutama saat musim penghujan. Menurutnya, kondisi saluran air, selokan, gorong-gorong, dan sungai sangat menentukan kemungkinan terjadinya banjir atau pencegahannya.
“Melihat langsung situasi di lapangan itu penting, terutama di musim penghujan di Jakarta, di mana saluran air, selokan, gorong-gorong dan sungai sangat menentukan bagaimana banjir bisa terjadi atau dicegah,” kata Bun Joi dalam keterangannya dikutip Senin (9/2).
Ia mencontohkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ketika menjabat Gubernur Jakarta sering turun langsung ke selokan atau gorong-gorong untuk memahami kondisi teknis dan mendengar keluhan warga. Menurut Bun Joi, tindakan tersebut tidak sekadar simbolik, tetapi sering memberikan insight nyata terkait masalah yang dihadapi.
“Banyak pemimpin (termasuk Presiden Joko Widodo ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta) turun langsung ke selokan atau gorong untuk memahami kondisi teknis dan mendengar langsung keluhan warga. Ini tidak hanya simbolik, tetapi sering memberikan insight nyata tentang masalah yang dihadapi,” ujar Bun Joi.
Bun Joi menambahkan bahwa kepemimpinan efektif sebaiknya menggabungkan kerja berpikir strategis dengan kepekaan terhadap kondisi di lapangan. Ia menyebut bahwa pernyataan Pramono bersifat jenaka dan situasional, bukan sindiran terhadap kebijakan atau gaya kepemimpinan tertentu.
“Ucapan tersebut jelas bersifat jenaka dan situasional, bukan sebuah sikap resmi bahwa pemimpin harus ‘tidak turun ke lapangan’. Pramono sendiri menyampaikan bahwa kalau sesekali ia masuk gorong-gorong pun ia siap, tetapi itu mungkin akan mengejutkan media dan publik,” ujar Bun Joi.
Sebelumnya, Pramono sempat bercanda dengan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) terkait kerja bakti. Ia mengatakan dirinya dan JK lebih memilih membuat kebijakan daripada turun ke gorong-gorong.
“Tadi saya sambil bercanda sama Pak JK ‘Pak JK kita ini dibesarkan dalam teknokrasi. Pasti Pak JK sama saya nggak mau masuk gorong-gorong, tapi yang bekerja adalah pikiran dan otaknya’. Pak JK ketawa,” canda Pramono.
Pramono menambahkan, jika suatu saat ia turun ke gorong-gorong, media dan publik kemungkinan akan terkejut.
“Sekali-sekali Gubernur masuk gorong-gorong, saya mau aja, Pak. Tapi nanti wartawan malah kaget kalau saya masuk gorong-gorong,” pungkasnya.
