Jakarta, GPriority.co.id – Sosok Deki Degei menjadi sorotan publik usai aksinya memimpin upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Lapangan Mepa Boarding School, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, viral di media sosial.
Siswa penyandang disabilitas tersebut menarik perhatian karena mampu berdiri tegak selama sekitar 40 menit hanya dengan bertumpu pada satu kaki saat memimpin jalannya upacara pada 2 Mei lalu.
Penampilan Deki yang penuh percaya diri dan semangat langsung menuai pujian. Di balik momen inspiratif itu, Deki dikenal sebagai sosok pekerja keras, mandiri, dan pantang menyerah di lingkungan sekolah maupun asrama.
Ketua Yayasan Mepa Boarding School, Jon Fallo mengatakan Deki tidak pernah menjadikan keterbatasan fisiknya sebagai alasan untuk bergantung pada orang lain.
“Dia anak disabilitas tapi dia tidak pernah menunjukkan kondisinya seperti seorang anak yang butuh dibantu kayak gitu. Dia anak yang selalu bersemangat, daya juangnya sangat tinggi,” kata Jon Fallo dikutip detikSulsel, Kamis (6/5).
Meski hanya memiliki satu kaki, Deki tetap tampil penuh keberanian saat memimpin pasukan peserta upacara. Dengan suara lantang dan sikap tegap, ia menjalankan tugasnya hingga upacara selesai.
Perjalanan hidup Deki sendiri tidak mudah. Saat berusia sekitar enam tahun di Jayapura, hidupnya berubah setelah mengalami kecelakaan tragis. Kaki kirinya remuk terlindas truk ketika dirinya bersama sang ayah menyeberang jalan.
Namun kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Deki justru tumbuh menjadi pribadi tangguh yang menolak bergantung pada alat bantu untuk berjalan. Ia memilih menjalani aktivitas sehari-hari dengan satu kaki dan terus melatih dirinya agar tetap mandiri dalam berbagai keadaan.
Keputusan itu perlahan membentuk karakter Deki menjadi sosok kuat dan penuh semangat. Dari kebiasaan jatuh dan bangkit, ia belajar menghadapi keterbatasan tanpa kehilangan rasa percaya diri.
Saat berdiri di tengah lapangan memimpin upacara Hardiknas, Deki tidak hanya menjalankan tugas sebagai pemimpin upacara. Kehadirannya juga menjadi simbol semangat, keteguhan, dan inspirasi bagi banyak orang, khususnya generasi muda di Papua Tengah.
