Jakarta, GPriority.co.id – Berbagai tantangan ekonomi baik nasional maupun secara global, kian terasa. Begitupun terkait permasalahan mencari kerja. Terungkap melalui sebuah survei yang dilakukan SEEK, induk platform JobStreet, bahkan mayoritas pekerja di Indonesia mengakui jika mencari pekerjaan sama sulitnya dengan mencari jodoh.
Lebih lanjut menurut survei tersebut, dari 5.000 responden yang tersebar di Asia Tenggara dan Hong Kong, 62 persen pekerja di Indonesia menyatakan jika menemukan pekerjaan yang cocok menjadi tantangan yang sama jika dikaitkan dengan menemukan pasangan hidup yang tepat.
Sementara, 25 persen lainnya merasa jika mencari kerja lebih sulit jika dibandingkan mencari jodoh, dan 14 persen sisanya berpikir sebaliknya. Faktanya, hal ini juga terjadi di negara-negara tetangga, kecuali Hong Kong. Banyak responden yang menganggap jika mencari kerja jauh lebih sulit.
Di Tanah Air sendiri, 48 persen pekerja Indonesia mengaku menghabiskan waktu yang sama untuk menggunakan aplikasi pencarian kerja dan aplikasi kencan. Sementara, 37 persen mengaku lebih banyak menggunakan aplikasi kerja. Sedangkan hanya 11 persen yang lebih sering berada di aplikasi kencan. Terungkapnya data survei ini menjadi pertanda jika tantangan dalam menemukan pekerjaan maupun pasangan kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat, terlebih di era digital yang kian berkembang.
Fenomena Sugar Daddy di Kalangan Mahasiswi
Disisi lain, faktor ekonomi juga menjadi salah satu hal terbesar fenomena sugar daddy di kalangan mahasiswi, kian meningkat. Biaya pendidikan yang kian meningkat, akhirnya mendorong sebagian mahasiswi untuk mencari alternatif pemasukan di luar pekerjaan paruh waktu. Salah satunya lewat menjalin hubungan dengan pria yang lebih dewasa dan kaya raya, atau lebih dikenal dengan istilah ‘sugar daddy’.
Bukan hanya di Indonesia, fenomena ini juga dijalani oleh ribuan mahasiswi dari kampus ternama seperti Georgia State University dan New York University. Mereka dilaporkan mendaftar ke situs kencan yang mempertemukannya dengan sugar daddy yang bersedia membiayai kuliah, buku, dan kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Situs tersebut juga mencatat lonjakan pendaftaran sebesar 58 persen pada 2012 lalu. Mirisnya, banyak mahasiswi yang secara terang-terangan menyatakan jika mereka kekurangan finansial dan membutuhkannya, hingga rela mencantumkan profil yang menggambarkan diri mereka sebagai perempuan ambisius untuk mencari dukungan keuangan.
Jika dilihat dari praktiknya, hubungan antara mahasiswi dengan sugar daddy ini kerap kali melibatkan imbalan berupa seks. Namun situs tersebut secara tegas menolak dikategorikan sebagai layanan prostitusi.
Situs tersebut menegaskan citranya sebagai platform untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan antara pria kaya raya dan perempuan muda, termasuk mahasiswi, aktris, ataupun model. Menurut pengakuan dari beberapa penggunanya, mereka menerima uang saku hingga puluhan ribu dolar per bulan. Mereka juga mendapat hadiah bernilai mewah seperti mobil dan perhiasan.
Foto : Ilustrasi/iStock
