Trump Soal Pelaku Penembakan Gala Dinner: Dia Benci Orang Kristen

Presiden AS Donald Trump bakal kenakan biaya Rp1,6 miliar untuk mahasiswa asing yang ingin bekerja di negaranya setelah lulus/Foto : Dok. AFP Presiden AS Donald Trump bakal kenakan biaya Rp1,6 miliar untuk mahasiswa asing yang ingin bekerja di negaranya setelah lulus/Foto : Dok. AFP

Washington, GPriority.co.id – Insiden penembakan yang terjadi dalam acara “White House Correspondents Dinner” pada Sabtu (25/4) terus mengungkap fakta baru.

Terbaru, Presiden AS Donald Trump, menyebut bahwa pelaku penyerangan menulis sebuah manifesto berisi pandangan anti-Kristen sebelum melancarkan aksinya.

Berdasarkan laporan media internasional kredibel termasuk WION, Reuters, dan The Straits Times, pelaku yang telah diidentifikasi sebagai Cole Tomas Allen (31) diduga memiliki ideologi ekstrem yang tertuang dalam tulisan tersebut. Ia kini telah ditahan setelah mencoba menerobos pengamanan dan melepaskan tembakan di lokasi acara di Washington, D.C.

Trump secara tegas menggambarkan pelaku sebagai sosok yang berbahaya. Ia mengatakan pelaku adalah “orang yang cukup sakit,” merujuk pada isi manifesto yang dianggap mengkhawatirkan.

Menurut pernyataan Trump, manifesto tersebut mengandung sentimen anti-Kristen serta kritik keras terhadap pemerintahannya. Dokumen itu juga disebut memuat niat pelaku untuk menyerang pejabat yang terkait dengan administrasi Trump.

“Dia menulis banyak hal buruk, hal-hal anti-Kristen,” pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa motif pelaku tidak hanya bersifat personal, tetapi juga ideologis.

Dalam laporan Reuters, pelaku bahkan menyebut dirinya sebagai “Friendly Federal Assassin”, sebuah istilah yang menunjukkan niat kekerasan terhadap target tertentu di pemerintahan.

Selain itu, isi manifesto juga memperlihatkan kemarahan terhadap kebijakan pemerintah dan pandangan ideologis yang ekstrem. Pelaku menilai sejumlah pejabat sebagai pihak yang harus diserang, meskipun penyelidikan masih terus berlangsung untuk memastikan motif utamanya.

Seorang pejabat penegak hukum menyebut bahwa tulisan tersebut menjadi bukti penting dalam mengungkap latar belakang serangan. Dokumen itu juga telah dikirim pelaku kepada anggota keluarganya sebelum kejadian.

“Keluarganya tahu ada masalah,” sebut Trump.

Lebih lanjut, Trump menambahkan bahwa laporan dari keluarga tersebut menunjukkan adanya tanda-tanda gangguan yang serius. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan mengenai apakah langkah pencegahan bisa dilakukan lebih awal.

Peristiwa ini menjadi sorotan dunia karena terjadi dalam salah satu acara paling prestisius di Washington, D.C. Banyak pihak menilai bahwa serangan ini mencerminkan meningkatnya ancaman kekerasan bermotif ideologi.

Acara “White House Correspondents Dinner ” sendiri dikenal sebagai ajang tahunan yang mempertemukan pejabat pemerintah, jurnalis, dan tokoh publik. Insiden ini menjadi salah satu gangguan keamanan paling serius dalam sejarah acara tersebut.