Udah Ngopi Belum? Tim Arabika dan Robusta Harus Tahu Ini

{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":[],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":false,"containsFTESticker":false}

Jakarta, Gpriority.co.id – Terdapat dua jenis kopi Indonesia yang biasa dikonsumsi, yaitu robusta dan arabika. Tapi tahukah jika keduanya memiliki karakter dan rasa unik yang berbeda? Yuk simak biar lebih tahu soal kopi.

Udah ngopi belum? Pertanyaan itu kerap ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Bisa dikatakan sudah menjadi simbol orang Indonesia, sekaligus basa-basi dalam pergaulan. Seolah ngopi itu untuk memulai hari atau menikmati waktu santai.

Sebagai negara negara penghasil kopi terbesar ke-3 di dunia pada 2022/2023, sudah pasti penikmat kopi Indonesia juga tercatat banyak jumlahnya. Hampir setiap sudut gedung terdapat coffee shop atau kedai kopi di lingkungan rumah.

Menurut para pakar kopi, terdapat dua jenis kopi Indonesia yang paling umum dikonsumsi, yaitu robusta dan arabika. Keduanya mempunyai pasar dan harga yang berbeda. Robusta banyak digunakan untuk membuat kopi instan, adapun arabika kerap ditemui sebagai speciality coffee di coffee shop.

Arabika sendiri merupakan jenis kopi yang pertama kali dibudidayakan di Indonesia. Jenis kopi ini sangat baik ditanam di daerah yang berketinggian 1.000-2.100 mdpl. Konon semakin tinggi lokasi perkebunan kopi, cita rasa yang dihasilkan biji kopi akan semakin baik.

Kopi Arabika memiliki karakter, kandungan lemak dan gula lebih tinggi. Biji kopinya juga berbentuk oval dan cenderung rata. Arabika pun memiliki aroma cenderung floral. Misalnya beraroma buah-buahan dan kacang-kacangan. Kandungan kafeinnya sebesar 1,1% hingga 1,5%.

Sementara jenis Robusta memiliki adaptasi yang lebih baik dibandingkan dengan jenis kopi Arabika. Areal perkebunan kopi Robusta juga relatif lebih luas di Indonesia. Pasalnya jenis Robusta dapat tumbuh di ketinggian yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan lokasi perkebunan jenis Arabika. Perkebunan Robusta dapat dilakukan di daerah dengan ketinggian 400 sampai 800 mdpl.

Kopi Robusta memiliki karakter biji kopinya agak bulat. Kandungan lemak dan gulanya juga relatif lebih rendah daripada Arabika. Beraroma earthy dan nutty serta cenderung memiliki rasa pahit. Adapun kandungan kafeinnya sebesar 2,2% hingga 2,7%.

Sebagai informasi, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menyebut Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar ke-3 dunia setelah Brazil, dan Vietnam pada 2022/2023. Adapun jumlah produksinya sebanyak 11,85 juta kantong. Rinciannya, Indonesia memproduksi kopi arabika sebanyak 1,3 juta kantong dan kopi robusta sebanyak 10,5 juta kantong.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Statistik Indonesia 2023 menerangkan, dalam kurun lima tahun terakhir produksi kopi tanah air cenderung naik. produksi kopi Indonesia mencapai 794,8 ribu ton pada 2022, meningkat sekitar 1,1% dibanding tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Tahun 2021, meningkat sebanyak 786,2 ribu ton. Tahun 2019 dan 2020 berturut-turut juga meningkat sebanyak 752,5 ribu ton dan 762,4 ribu ton. Adapun produksi kopi terendah yakni pada 2017 sebanyak 716,10 ribu ton, pada 2018 sebanyak 756 ribu ton.

Foto : Kementan