Jakarta, GPriority.co.id – Para peneliti di Washington University Medicine St. Louis, Missouri, menemukan bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko Alzheimer hingga 95 persen.
Dilansir dari laporan NY Post, penelitian tersebut dipresentasikan pada Selasa (2/12) lalu pada agenda pertemuan tahunan Radiological Society of North America (RSNA) di Chicago.
Dengan melibatkan 407 peserta dari Alzheimer’s Disease Neuroimaging Initiative, penelitian ini dilakukan dalam jangka 5 tahun. Dalam penelitian tersebut, para peneliti melakukan pemindaian PET (pencitraan medis) serta mengambil sampel darah responden.
Saat diamati dalam jangka panjang, peserta dengan indeks massa tubuh yang berlebih memiliki beban penyakit Alzheimer lebih besar ketimbang mereka yang tidak mengalami obesitas. Peneliti menemukan adanya penumpukan plak amiloid di otak yang merupakan ciri utama demensia paling umum.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa selama periode lima tahun, obesitas dikaitkan dengan peningkatan Alzheimer,” ujar Dr. Soheil Mohammadi, salah satu peneliti yang terlibat.
Sementara menurut peneliti senior Dr. Cyrus Rajj, perkembangan Alzheimer dipengaruhi oleh patologi yang terjadi secara keseluruhan dalam tubuh seperti obesitas.
“Penelitian kami sebelumnya menunjukkan bahwa lemak perut juga mendorong sebagian besar obesitas yang akhirnya memengaruhi otak,” jelas Mohammadi.
Dr. Marc Siegel, analis medis senior juga mengungkap hal yang sama. Ia menyebut, obesitas secara langsung menyebabkan peradangan dan resistensi insulin yang memicu peradangan saraf, salah satu pilar perkembangan Alzheimer.
Selain Alzheimer, obesitas juga menjadi penyebab dari penyakit diabetes, hipertensi, hingga peradangan. Untuk menjaga kesehatan otak hingga tua dan mencegah Alzheimer, ada beberapa cara yang dapat dilakukan.
Pertama dengan mengonsumsi makanan bergizi terutama yang baik untuk otak seperti asam lemak dan omega-3 serta buah dan sayur yang kaya antioksidan, rutin berolahraga, serta menjaga kualitas tidur.
Selanjutnya melatih otak dengan aktivitas kognitif seperti membaca buku atau bermain teka-teki, mengelola stres dengan baik, berinteraksi sosial, menghindari kebiasaan buruk, hingga rutin mengecek kesehatan.
