Jakarta, GPriority.co.id – Pelaksanaan hari pertama Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 diwarnai temuan sejumlah praktik kecurangan.
Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) mengungkap adanya berbagai modus curang yang dilakukan peserta di sejumlah lokasi ujian di Indonesia, sebagaimana dilansir dari laporan ANTARA pada Rabu (22/4).
Menurut Ketua Umum Tim SNPMB 2026, Eduart Wolok, setidaknya ada dua bentuk kecurangan yang teridentifikasi pada hari pertama pelaksanaan ujian.
“Sejauh ini terdapat dua skema kecurangan yang sudah ditemukan, seperti perjokian dan penggunaan alat bantu,” ujar Eduart dikutip dari ANTARA.
Praktik perjokian atau penggunaan orang lain untuk menggantikan peserta menjadi salah satu modus yang paling disorot. Selain itu, penggunaan perangkat elektronik sebagai alat bantu juga ditemukan dalam beberapa kasus.
Temuan ini menunjukkan bahwa upaya untuk menembus sistem seleksi nasional masih terus terjadi meskipun pengawasan telah diperketat.
Eduart menegaskan bahwa panitia tidak akan mentoleransi segala bentuk pelanggaran. Peserta yang terbukti melakukan kecurangan akan dikenakan sanksi tegas, mulai dari pengguguran dalam seleksi hingga larangan mengikuti jalur penerimaan di perguruan tinggi negeri, bahkan bisa berujung pada sanksi hukum.
“Kami mengimbau kepada seluruh peserta untuk tidak melakukan kecurangan dalam proses seleksi ini,” tegasnya.
Sebagai informasi, jumlah peserta UTBK-SNBT tahun ini mencapai 871.496 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan jumlah yang besar tersebut, panitia menilai pentingnya menjaga integritas agar proses seleksi tetap adil dan transparan.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, juga menyoroti masih adanya upaya kecurangan yang terjadi di lapangan. Ia mengingatkan bahwa tindakan tidak jujur pada akhirnya akan terdeteksi oleh sistem maupun pengawasan panitia.
“Masih terjadi beberapa upaya tindak curang dan panitia sudah melakukan imbauan. Mari kita tegakkan integritas, hindari kecurangan, karena pada akhirnya kecurangan dapat diketahui,” kata Brian.
Selain temuan di tingkat pusat, sejumlah perguruan tinggi juga melaporkan indikasi kecurangan di lokasi ujian masing-masing. Misalnya, dugaan pemalsuan dokumen dan identitas dalam praktik perjokian yang terdeteksi melalui pengawasan berlapis.
Panitia menyatakan bahwa berbagai langkah antisipatif telah diterapkan, seperti pemeriksaan ketat, penggunaan metal detector, hingga pembatasan barang bawaan peserta. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi peluang terjadinya kecurangan selama ujian berlangsung.
