231 Bendungan Bikin Panen Makin Meningkat

Jakarta,GPriority.co.id-Gerak cepat Presiden Joko Widodo dalam membuat bendungan di Indonesia mulai membuahkan hasil. Sebab hasil panen di seluruh daerah mulai meningkat.

Hal inilah yang dikatakan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono usai mendampingi Presiden Jokowi melakukan peninjauan Bendungan Sindangheula yang terletak di Kabupaten Serang, Banten.

Basuki melanjutkan, kepada PUPR, Presiden Jokowi meminta agar pembangunan infrastruktur bendungan tetap berjalan meskipun kondisi ekonomi tengah terpuruk imbas Covid-19.

PUPR pun mengiyakan instruksi Jokowi dengan melanjutkan pembangunan bendungan di seluruh daerah. ” Alhamdulillah hingga pertengahan 2022 sudah ada 231 bendungan yang selesai. Ke-231 bendungan tersebut membuat indeks pertanaman di Indonesia meningkat,” kata Basuki.

Kementerian PUPR terus mengejar target pembangunan 61 bendungan sampai 2024. Menurut Menteri Basuki, sampai saat ini sudah ada 29 bendungan yang tuntas. Sedangkan 32 bendungan lainnya, masih dalam proses pembangunan. Menteri Basuki menyatakan, kehadiran bendungan itu telah meningkatkan indeks pertanaman, sehingga hasil produksi beras secara nasional meningkat.

“Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia surplus beras sekitar 3 juta ton dan tidak impor beras lagi,” kata Menteri Basuki, dalam siaran persnya, 18 Juni 2022.

Menteri Basuki menjelaskan, kehadiran bendungan di seluruh tanah air telah meningkatkan indeks pertanaman, dengan rata-rata nasional menurut Badan Pusat Statistik (BPS), berada di angka 147 persen. Nilai indeks tersebut diharapkan dapat terus naik apabila sejumlah proyek pembangunan bendungan telah selesai.

“(Kehadiran bendungan) meningkatkan indeks pertanaman yang sekarang ini rata-rata nasional BPS, 147 persen, dengan 231 bendungan. Jadi dengan tambahan 61 bendungan bisa menjadi 200 persen,” ujar Menteri Basuki.

Indeks Pertanaman (IP) adalah hasil dari perbandingan antara jumlah luas pertanaman dalam pola tanam selama setahun dengan luas lahan yang tersedia untuk ditanami.

Selain itu, tambah Menteri Basuki, kehadiran bendungan juga berpengaruh terhadap hasil produksi pangan tanah air. Menteri Basuki menyebutkan, dengan indeks pertanaman 147 persen, hasil produksi beras secara nasional mencapai 31 juta ton, melebihi kebutuhan konsumsi nasional.

“Padahal konsumsinya 28 juta ton. Jadi make sense, kenapa tiga tahun ini tidak impor (beras),” katanya.

Basuki memang berharap, kehadiran sejumlah bendungan yang masih dalam proyek pembangunan itu senantiasa dapat meningkatkan indeks pertanaman. Sehingga produksi beras nasional dapat mencapai 40 juta ton pada 2045.

“Jadi nanti 2045 kalau bisa sampai 200 (persen), itu bisa produksi 40 juta ton. Surplusnya bisa sampai 10 juta (ton),” katanya.

Selain bendungan, Kementerian PUPR juga melakukan pekerjaan rehabilitasi 3,02 juta ha jaringan irigasi dan pembangunan 1,01 juta ha jaringan irigasi baru. Seluruh infrastruktur ini akan mendukung sentra produksi tanaman pangan, khususnya untuk tujuh komoditas utama yaitu beras, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai, dan sorgum.

Pemerintah juga tengah mengembangkan beberapa sentra produksi tanaman pangan melalui pengembangan food estate, yakni di Sumatra Utara (Humbang Hasundutan) dengan target luasan 20.000 ha dengan komoditas bawang merah dan bawang putih, dan Kalimantan Tengah (Kapuas) dengan target luasan 29.000 ha dengan komoditas utama padi dan jagung.(Hs.Foto.Setkab)

Related posts