Jakarta, GPriority.co.id – Kesehatan tulang seringkali tak terlalu dikhawatirkan oleh banyak orang, ketimbang penyakit seperti kanker atau jantung. Padahal, khususnya bagi wanita, masalah kepadatan tulang dapat menjadi serius seiring bertambahnya usia.
Pada penyakit osteoporosis, dapat melemahkan tulang dan bahkan meningkatkan risiko patah tulang. Sebagaimana dilansir dari NY Post, Mary Claire Haver, profesor madya bidang kebidanan dan ginekologi di University of Texas Medical Branch, mencoba menjelaskan kasus penyakit tulang.
“Sekitar 50% wanita diperkirakan akan mengalami patah tulang osteoporosis sebelum meninggal. Angka itu tiga kali lipat lebih tinggi daripada pria,” sebutnya.
Osteoporosis didefinisikan sebagai penyakit tulang yang berkembang ketika kepadatan mineral tulang dan massa tulang menurun, atau ketika struktur dan kekuatan tulang berubah, menurut National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases.
Kondisi ini dapat menyebabkan tulang menjadi sangat lemah dan rapuh sehingga jatuh atau bahkan sekadar tekanan ringan seperti batuk, dapat menyebabkan patah tulang.
Haver, yang juga pendiri ‘The Pause Life’, sebuah platform kesehatan dan kebugaran yang berfokus pada mendukung wanita melalui perubahan di usia paruh baya, mencatat bahwa jatuh yang terjadi setelah terjadi keretakan pada tulang bisa sangat menghancurkan kesehatan.
Kendati demikian, Haver menekankan bahwa osteoporosis adalah penyakit yang sebagian besar dapat dicegah.
“Memperhatikan gaya hidup, perilaku, dan mungkin juga pengobatan yang dapat mencegah osteoporosis sejak dini, akan sangat membantu menunda hilangnya kemandirian yang dialami wanita seiring bertambahnya usia,” katanya saat diwawancarai Fox News Digital.
Menurut Haver dan Mayo Clinic, kondisi ini lebih mungkin terjadi pada mereka yang mengalami ketidakseimbangan hormon, telah menjalani operasi saluran pencernaan, memiliki asupan kalsium rendah, atau mengalami gangguan makan. Mereka yang memiliki riwayat keluarga osteoporosis juga mungkin menghadapi risiko yang lebih tinggi.
Begitupun bagi mereka yang pernah mengonsumsi obat kortikosteroid untuk kondisi seperti kejang, refluks lambung, dan kanker. Begitu pula mereka yang menderita penyakit celiac, penyakit radang usus, penyakit ginjal atau hati, mieloma multipel, dan artritis reumatoid.
Meskipun osteoporosis terkadang disebut sebagai “penyakit diam-diam,” yang dapat berkembang tanpa gejala hingga terjadi patah tulang, ada beberapa petunjuk halus yang mungkin menunjukkan kepadatan tulang “lebih rendah dari normal,” kata Haver.
Gejala-gejala tersebut meliputi penurunan tinggi badan, sakit punggung, gusi menyusut, dan kuku yang lemah atau rapuh. Osteoporosis juga dapat disebabkan oleh kebiasaan tidak sehat tertentu, seperti gaya hidup kurang gerak, konsumsi alkohol berlebihan, dan penggunaan tembakau.
“Orang yang menghabiskan banyak waktu duduk memiliki risiko osteoporosis yang lebih tinggi daripada mereka yang lebih aktif,” tulis Mayo Clinic dalam laman resminya.
Sementara itu, Haver setuju bahwa tetap aktif secara fisik, sambil mendapatkan cukup kalsium dan vitamin D melalui diet sehat atau suplemen, dapat membantu menjaga kepadatan tulang yang sehat.
“Lakukan latihan beban dan latihan ketahanan, hindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan, dan bicarakan dengan dokter tentang obat-obatan apa pun yang dapat memengaruhi kesehatan tulang,” tulisnya dalam unggahan blognya.
“Pemeriksaan kepadatan tulang secara berkala juga dapat direkomendasikan untuk beberapa individu guna memantau kesehatan tulang mereka dan mengidentifikasi potensi masalah sejak dini,” pungkas Haver.
