Jakarta, GPriority.co.id – Bagi pekerja, fase-fase bosan atau lelah memang sudah biasa. Namun, bagaimana jika fase tersebut berkepanjangan hingga membuat semangat kerja menurun? fenomena tersebut dinamakan silent rebellion.
Dilansir dari postingan TIkTok @merrymelody1, fenomena silent rebellion merupakan pemberontakan diam-diam di tempat kerja. Pada fase tersebut, karyawan bekerja tanpa semangat, melakukan tugas minimum, hingga menunjukkan ketidakpuasan secara pasif.
Beberapa ciri-ciri silent rebellion diantaranya seperti karyawan hadir di kantor tetapi tidak proaktif, menyelesaikan pekerjaan hanya sebatas yang diminta tanpa adanya inisiatif atau semangat lebih, sampai mereka menunjukkan ketidakpuasan secara pasif tanpa mengutarakan secara langsung.
Ada beberapa penyebab mengapa kemudian fenomena ini terjadi. Paling utama, karyawan merasa tidak dihargai oleh atasan. Mereka merasa atasan sulit untuk diajak berkomunikasi atau berdiskusi. Selain itu, pekerja juga merasa lingkungan kerja membuat mereka stres hingga burnout (mentok berpikir).
Apabila fase ini dibiarkan terus menerus, maka yang terjadi produktivitas perusahaan akan menurun, menciptakan tim yang tidak sehat secara mental, dan puncaknya merugikan perusahaan tanpa disadari.
Bukan hanya di dunia kerja tanah air, fenomena ini juga terjadi di beberapa negara dunia. Misalnya saja di Inggris, menurut survei YouGov, 3 persen pekerja di negara tersebut hanya melakukan pekerjaan seminimal mungkin, sementara 17 persen merasa tidak termotivasi.
Sementara di Spanyol, studi dari Muypymes mengungkapkan bahwa 59 persen pekerja hanya melakukan apa yang diwajibkan, tidak lebih. Begitupun dengan di Prancis, survei IFOP menunjukkan bahwa 40 persen karyawan di negara tersebut mengalami keterasingan emosional.
Untuk menghindarkan diri dari fenomena silent rebellion, beberapa hal yang bisa dilakukan pekerja antara lain :
– Komunikasikan kebutuhan, jangan berdiam diri atau menahan diri.
– Kelola energi dengan lebih memprioritaskan hal yang penting, serta tidak memaksa diri secara berlebihan.
– Cari tahu pemicu stres atau ketidakpuasan agar bisa diatasi langsung.
– Cari solusi bersama dengan saling berdiskusi.
– Lakukan hobi hingga perbanyak sosialisasi, untuk menjaga keseimbangan mental.
Sementara dari sisi perusahaan, untuk mencegah karyawan dari fase tersebut, berikut ini langkah yang dapat dilakukan.
– Berikan penghargaan, peluang pengembangan karir lewat pelatihan atau mentoring, serta mendiskusikan rencana ke depannya dengan karyawan.
– Komunikasikan peran dan tanggung jawab dengan jelas agar tidak muncul kebingungan.
– Beri kesempatan karyawan untuk memberi feedback, serta mengakui kontribusi mereka.
– Hindari terciptanya lingkungan yang toxic dan dukung keseimbangan kerja dengan kehidupan pribadi karyawan.
– Seimbangkan beban kerja dengan kompensasi karyawan.
