Jakarta, GPriority.co.id – Beberapa orang mungkin pernah merasa dijauhkan di tempat kerja oleh rekannya. Seperti tidak diajak rapat, tidak diberi proyek, hingga puncaknya, merasa tidak dibutuhkan. Fenomena ini disebut Quiet Firing.
Quiet Firing terjadi ketika perusahaan atau atasan secara halus “mendorong” karyawan untuk resign dari kantor, tanpa harus memecatnya. Seringkali, karyawan dibuat tidak betah, hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar. Tujuannya yaitu menghindari proses PHK dan menjaga citra perusahaan.
Quiet Firing bukan berarti berhenti kerja, tapi berhenti memberi lebih dari yang diminta. Dalam posisi ini karyawan akan tetap bekerja, namun hanya sebatas tugas minimal, tanpa semangat, tanpa inisiatif, apalagi tanpa loyalitas.
Lalu, mengapa fenomena ini bisa terjadi?
Quiet Firing terjadi saat pekerja merasa tidak dihargai meski sudah bekerja keras, beban kerja tinggi tanpa kompensasi, tidak ada kesempatan untuk berkembang, atasan tidak peduli kesejahteraan, hingga lingkungan kerja yang toxic.
Beberapa pertanda anda mengalami Quiet Firing antara lain :
– Tidak dilibatkan dalam proyek penting
– Tidak pernah diberi feedback
– Pekerjaan dikurangi atau tidak jelas
– Ditinggalkan dalam komunikasi tim
– Tidak lagi diajak rapat atau diskusi.
Bagi karyawan, fenomena ini sangat berbahaya. Karena dampaknya dapat menyebabkan stres dan kehilangan motivasi, merasa tidak dihargai, hingga kinerja menurun karena beban emosional yang dipikul.
Untuk menghadapinya, beberapa solusi yang dapat dilakukan antara lain :
– Dokumentasikan semua kejadian di kantor
– Bangun komunikasi profesional
– Evaluasi masih layak dipertahankan atau cari lingkungan kerja baru.
Perlu diingat, fenomena ini bukan berarti menujukkan anda lemah, namun anda hanya perlu lingkungan kerja yang lebih sehat. Paling terpenting, anda harus berani mengambil langkah demi kesehatan mental dan karier ke depannya. Tetap semangat, ya!
