Timur Tengah, GPriority.co.id – Formula 1 (F1) resmi mengumumkan pembatalan Grand Prix (GP) Bahrain dan Arab Saudi pada kalender musim 2026. Keputusan ini diambil sebagai buntut meningkatnya konflik di kawasan Teluk dan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran serius terkait keamanan serta logistik penyelenggaraan balapan, sebagaimana dilansir dari laporan Sky Sports pada Selasa (17/3).
Adapun pembatalan dua seri tersebut membuat kalender Formula 1 2026 berkurang dari rencana awal 24 balapan menjadi hanya 22 balapan sepanjang musim. Langkah ini diumumkan setelah situasi keamanan di kawasan Teluk semakin tidak menentu akibat eskalasi konflik militer yang melibatkan Iran dan beberapa negara di kawasan tersebut.
Laporan Wikipedia menyebut, GP Bahrain sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 12 April 2026 di Bahrain International Circuit, sementara GP Arab Saudi dijadwalkan seminggu kemudian pada 19 April 2026 di Jeddah Corniche Circuit. Kedua seri tersebut seharusnya menjadi putaran keempat dan kelima dalam kalender musim F1 2026.
Namun situasi geopolitik di Timur Tengah membuat penyelenggara tidak memiliki pilihan lain. Serangan balasan dan ketegangan militer di kawasan Teluk menyebabkan risiko keamanan yang dinilai terlalu besar bagi pembalap, tim, serta seluruh staf yang terlibat dalam kejuaraan dunia balap tersebut.
CEO Formula 1, Stefano Domenicali, menyatakan keputusan tersebut memang berat, tetapi harus diambil demi keselamatan semua pihak. Ia menegaskan bahwa keamanan pembalap, kru tim, serta personel F1 menjadi prioritas utama dalam setiap penyelenggaraan balapan.
“Meskipun ini adalah keputusan yang sulit, sayangnya ini adalah keputusan yang tepat pada tahap ini mengingat situasi saat ini di Timur Tengah,” ujar Domenicali seperti dikutip dari laporan Sky Sports.
Di samping itu, menurut laporan The Times of India, konflik yang terjadi juga menimbulkan kendala logistik. Pengiriman peralatan tim dan infrastruktur balapan menjadi sulit karena situasi keamanan yang tidak stabil serta gangguan jalur transportasi di kawasan Teluk. Hal ini semakin memperkuat keputusan untuk membatalkan dua seri tersebut.
Pembatalan ini juga berdampak pada beberapa seri pendukung F1 seperti Formula 2, Formula 3, dan F1 Academy yang seharusnya digelar bersamaan dengan dua balapan tersebut. Semua ajang pendukung tersebut dipastikan tidak akan berlangsung sesuai jadwal awal.
Awalnya, pihak penyelenggara sempat mempertimbangkan beberapa sirkuit alternatif untuk menggantikan slot balapan yang kosong. Namun waktu persiapan yang terlalu singkat serta tantangan logistik membuat rencana tersebut akhirnya tidak dilanjutkan. Akibatnya, kalender F1 akan mengalami jeda sekitar lima minggu antara Grand Prix Jepang pada akhir Maret dan Grand Prix Miami pada awal Mei.
Meski demikian, Formula 1 menegaskan bahwa Bahrain dan Arab Saudi tetap menjadi bagian penting dari kalender balap di masa depan. Kedua negara tersebut selama beberapa tahun terakhir menjadi tuan rumah balapan penting di kawasan Timur Tengah dengan dukungan finansial dan infrastruktur yang besar.
Pihak F1 juga berharap dapat kembali menggelar balapan di kedua negara tersebut ketika situasi keamanan sudah kembali stabil. Hingga saat ini, otoritas balap internasional FIA masih terus memantau perkembangan situasi geopolitik di kawasan Teluk sebelum mengambil keputusan terkait kalender musim berikutnya.
Pembatalan GP Bahrain dan GP Arab Saudi menjadi bukti bahwa konflik geopolitik global dapat berdampak langsung pada dunia olahraga internasional, termasuk ajang balap paling bergengsi seperti Formula 1.
