Jakarta, GPriority.co.id – Sebuah video yang memperlihatkan sepasang muda-mudi tertidur sambil berpelukan di musala Pantai Logending, Kebumen, viral di media sosial.
Dalam video berdurasi 1 menit 5 detik yang diunggah akun Instagram @reset.feeds, terlihat tiga orang muda-mudi sedang tertidur di dalam musala. Dua di antaranya, seorang perempuan dan laki-laki, tampak tidur dalam keadaan berpelukan.
Melihat kejadian tersebut, warga setempat merasa tidak terima dengan tindakan pasangan itu. Mereka kemudian mengguyur keduanya dengan air hingga pasangan tersebut terkejut dan terbangun dari tidurnya.
Menanggapi peristiwa itu, Founder Santri Motivator School, Ustaz Asroni Al Paroya, menjelaskan bahwa seluruh rumah ibadah merupakan tempat yang disakralkan oleh para penganutnya, termasuk masjid dan musala. Menurutnya, tempat ibadah bukan sekadar bangunan biasa, melainkan rumah yang dimuliakan.
“Ia adalah rumah Allah yang dimuliakan, tempat di mana langit dan bumi seakan bertemu dalam sujud seorang hamba. Maka setiap langkah yang kita ayunkan menuju masjid seharusnya diiringi dengan rasa hormat, ketundukan, dan kesadaran bahwa kita sedang memasuki tempat yang suci,” kata Ustaz Asroni kepada GPriority, Kamis (2/4).
Dia menambahkan, Allah SWT telah mengingatkan tentang siapa yang layak memakmurkan masjid.
Dalam firman-Nya:
> إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ…
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir…” (QS. At-Taubah: 18)
Menurutnya, ayat tersebut bukan sekadar informasi, melainkan juga teguran halus. Memakmurkan masjid tidak hanya berarti hadir secara fisik, tetapi juga menjaga adab, akhlak, serta kesucian perilaku di dalamnya.
Ustaz Asroni mengatakan, ketika terjadi peristiwa muda-mudi berpelukan bahkan tidur bersama di dalam masjid atau musala, terlebih jika bukan mahram, maka seorang mukmin seharusnya merasa sedih. Bukan hanya karena melanggar norma sosial, tetapi juga karena hal itu mencederai kehormatan rumah Allah.
“Perbuatan seperti itu bukan hanya melanggar adab, tetapi juga mendekati sesuatu yang telah Allah larang dengan tegas,” ucapnya.
Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Isra ayat 32 yang berbunyi:
> وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)
Menurutnya, larangan tersebut tidak hanya mencakup zina, tetapi juga segala hal yang dapat mendekatinya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Allah juga memerintahkan agar rumah-Nya dijaga kesuciannya sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Hajj ayat 26.
> وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
“Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, yang berdiri (shalat), ruku’ dan sujud.” (QS. Al-Hajj: 26)
Menurut Ustaz Asroni, kesucian yang dimaksud bukan hanya dari kotoran fisik, tetapi juga dari perilaku yang tidak pantas, maksiat, serta hal-hal yang dapat mengurangi kemuliaannya.
Rasulullah SAW juga mengajarkan adab ketika berada di masjid. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa seseorang yang masuk ke masjid dianjurkan untuk tidak langsung duduk sebelum menunaikan salat dua rakaat sebagai bentuk penghormatan kepada masjid.
Selain itu, dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menegaskan bahwa masjid bukanlah tempat untuk melakukan hal-hal yang kotor atau tidak pantas, melainkan tempat untuk berdzikir kepada Allah, melaksanakan salat, dan membaca Al-Qur’an.
Ustaz Asroni menilai, peristiwa yang terjadi di musala tersebut seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak agar senantiasa menjaga adab ketika berada di tempat ibadah.
Meski demikian, ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak serta-merta mencaci atau menghakimi. Menurutnya, sikap yang lebih tepat adalah menasihati dengan hikmah, menyampaikan kebenaran dengan kelembutan, serta mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah.
“Saudaraku, dari sini kita memahami bahwa menjaga adab di masjid adalah bagian dari iman. Apa yang terjadi dalam kasus tersebut hendaknya menjadi pelajaran, bukan hanya untuk mereka, tetapi juga untuk kita semua. Bahwa rasa malu (haya’) dan kesadaran akan pengawasan Allah harus senantiasa hidup dalam diri kita, terutama ketika berada di tempat yang dimuliakan,” pungkasnya.
