Mengapa Konsumsi Gula Berlebih Mempercepat Penuaan? Ini Penjelasannya

Ilustrasi konsumsi gula berlebih/Foto : Dok. Freepik Ilustrasi konsumsi gula berlebih/Foto : Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Konsumsi gula berlebih ternyata tidak hanya berdampak pada berat badan atau risiko diabetes, tetapi juga dapat mempercepat proses penuaan dari dalam tubuh. Fenomena ini dijelaskan melalui proses ilmiah bernama glikasi (glycation), yang kini menjadi perhatian para ahli kesehatan.

Menurut laporan terbaru dari NY Post, gula dapat “mengaramelisasi” bagian dalam tubuh manusia, mirip seperti proses memasak makanan. Ketika gula bereaksi dengan protein dalam tubuh, terbentuk senyawa berbahaya yang disebut Advanced Glycation End Products (AGEs). Senyawa ini berperan besar dalam mempercepat penuaan dan memicu berbagai penyakit.

Mengapa Glikasi Berbahaya?

Glikasi adalah proses ketika molekul gula menempel pada protein, lemak, atau DNA dalam tubuh tanpa bantuan enzim. Proses ini menghasilkan AGEs yang dapat merusak struktur sel dan jaringan tubuh.

Dalam studi yang dikutip, para peneliti menggambarkan efek ini sebagai “borgol kimia” yang mengganggu fungsi tubuh. Mereka menyebutkan bahwa gula dapat mengacaukan protein, menonaktifkan enzim, memicu sinyal biokimia yang tidak sehat, dan merusak DNA. Akibatnya, tubuh mengalami penuaan lebih cepat, baik secara internal maupun eksternal.

Salah satu dampak paling terlihat adalah pada kulit. Konsumsi gula berlebih dapat merusak kolagen, protein penting yang menjaga elastisitas kulit. Hal ini menyebabkan kulit menjadi kendur, muncul kerutan, dan terlihat lebih tua.

Namun, dampaknya tidak berhenti di situ. Secara internal, glikasi dapat merusak sendi, otot, dan tendon, mengganggu fungsi otak, meningkatkan risiko demensia, memicu kerusakan pembuluh darah dan penyakit jantung, hingga berpotensi meningkatkan risiko kanker.

Dalam kasus ekstrem, penelitian bahkan menunjukkan bahwa diet tinggi gula dalam waktu singkat dapat memengaruhi fungsi otak melalui kerusakan pembuluh darah yang menyuplai oksigen.

Jenis Gula yang Paling Berbahaya

Tidak semua gula memiliki dampak yang sama. Fruktosa yang banyak ditemukan dalam minuman jus buah dan minuman manis, disebut sebagai salah satu pemicu glikasi paling cepat.

Dr. Pankaj Kapahi dari Buck Institute menjelaskan bahwa fruktosa dapat mempercepat proses glikasi hingga beberapa kali lebih cepat dibandingkan glukosa. Ia menyatakan bahwa gula seperti fruktosa, sukrosa, dan glukosa semuanya dapat membentuk AGEs di dalam tubuh.

Menariknya, buah utuh tidak memberikan efek yang sama seperti jus buah. Kandungan serat dalam buah membantu memperlambat penyerapan gula sehingga dampaknya lebih terkendali.

Selain dari makanan manis, cara memasak juga berperan dalam pembentukan AGEs. Metode memasak dengan suhu tinggi seperti memanggang atau menggoreng dapat meningkatkan jumlah AGEs dalam makanan.

Sebaliknya, teknik memasak seperti merebus, mengukus, atau memasak dengan suhu rendah terbukti dapat mengurangi pembentukan senyawa berbahaya ini.

Hal ini menunjukkan bahwa gaya hidup sehat bukan hanya tentang apa yang dimakan, tetapi juga bagaimana makanan tersebut diolah.