Sabrina Carpenter Blunder di Coachella 2026, Dihujat Rasis dan Islamofobia

Penyanyi Sabrina Carpenter banjir hujatan rasis dan islamofobia usai tampil di Coachella 2026/Foto : Dok. Getty Images Penyanyi Sabrina Carpenter banjir hujatan rasis dan islamofobia usai tampil di Coachella 2026/Foto : Dok. Getty Images

California, GPriority.co.id – Penampilan Sabrina Carpenter di ajang Coachella 2026 menuai sorotan tajam. Bukan karena aksi panggungnya, melainkan insiden interaksi dengan penonton yang dinilai tidak sensitif secara budaya hingga memicu gelombang kritik di media sosial.

Dalam penampilannya sebagai salah satu headliner festival musik terbesar dunia tersebut, Carpenter sempat menghentikan sejenak aksinya setelah mendengar suara dari arah penonton. Ia kemudian mengira suara tersebut sebagai “yodeling” atau nyanyian khas Eropa, dan merespons dengan komentar spontan yang justru memicu kontroversi.

Menurut laporan media internasional, suara yang dimaksud sebenarnya adalah “zaghrouta”, yaitu seruan tradisional dalam budaya Arab yang biasa digunakan untuk merayakan momen bahagia. Namun, ketidaktahuan Carpenter terhadap konteks budaya tersebut membuat responsnya dinilai tidak tepat.

Dilansir dari laporan Newsweek, dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial, Carpenter terdengar berkata, “Saya pikir saya mendengar seseorang yodel… apakah itu yang kamu lakukan? Saya tidak menyukainya.”

Setelah penonton mencoba menjelaskan bahwa itu adalah bagian dari budaya mereka, ia kembali merespons, “Itu budaya kalian, yodeling? Ini seperti Burning Man? Apa yang terjadi? Ini aneh.”

Komentar tersebut langsung menuai reaksi keras dari warganet. Banyak yang menilai ucapan tersebut sebagai bentuk ketidaksensitifan budaya, bahkan sebagian menyebutnya bernuansa Islamofobia. Kritik berkembang pesat seiring viralnya potongan video insiden tersebut di berbagai platform digital.

Sejumlah pengguna media sosial menyampaikan kekecewaan mereka terhadap penyanyi pop tersebut. Salah satu komentar yang viral menyebut bahwa sikap Carpenter dianggap meremehkan ekspresi budaya Arab yang memiliki makna penting dalam perayaan.

Meski demikian, tidak sedikit pula yang memberikan pembelaan. Beberapa pihak menilai bahwa situasi panggung yang bising dan penuh tekanan bisa menyebabkan kesalahpahaman, terutama dalam konteks festival berskala besar seperti Coachella.

Beri Klarifikasi Meski Tetap Banjir Hujatan

Menanggapi kritik yang terus berkembang, Carpenter akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial. Ia menjelaskan bahwa reaksinya saat itu murni karena kebingungan dan bukan bermaksud menyinggung pihak mana pun.

“Permintaan maaf saya. Saya tidak melihat orang tersebut dengan jelas dan tidak bisa mendengar dengan baik. Reaksi saya murni karena kebingungan dan sarkasme, bukan niat buruk. Seharusnya saya bisa menanganinya dengan lebih baik. Sekarang saya tahu apa itu zaghrouta. Mulai sekarang saya menyambut semua sorakan,” ungkapnya.

Permintaan maaf tersebut mendapat respons beragam. Sebagian publik menerima penjelasan Carpenter dan menganggapnya sebagai bentuk tanggung jawab, sementara yang lain menilai bahwa insiden tersebut tetap mencerminkan kurangnya pemahaman budaya di panggung internasional.

Namun terlepas dari kontroversi tersebut, penampilan Carpenter di Coachella tetap menjadi salah satu yang paling disorot tahun ini. Festival yang digelar di California itu dikenal sebagai panggung bagi musisi papan atas dunia dan selalu menarik perhatian jutaan penonton, baik secara langsung maupun melalui siaran digital.