Jakarta, GPriority.co.id – Media sosial dihebohkan dengan kemunculan video suasana di KRL yang menampilkan momen menegangkan dari penumpang yang sedang adu mulut.
Dari video tersebut, suasana nampak memanas akibat perselisihan kecil. Video kejadian ini ramai dibahas di Instagram dan TikTok. Banyak netizen yang menganggapnya sebagai tamparan keras sekaligus lelucon yang menyadarkan.
Penumpang yang tidak diketahui identitasnya tersebut melontarkan satu kalimat yang seketika membuat suasana gerbong yang tadinya tegang, menjadi hening hingga keributan mereda.
“Masih miskin jangan berantem!” ujar penumpang yang kini celetukannya viral.
Usai mendengar celetukan tersebut, 2 penumpang yang berargumen tersebut akhirnya ‘kena mental’. Kejadian ini dianggap sebagai cara unik sekaligus menohok untuk menyadarkan penumpang agar tidak membuang energi untuk bertengkar di transportasi umum.
Kejadian ribut kecil ini bukan kali pertama terjadi. Sejak lama, di transportasi umum khususnya KRL, banyak kejadian tak terduga seperti pertengkaran antar penumpang karena hal-hal sepele.
Berdasarkan penelitian, fenomena ini sebenarnya disebabkan oleh beberapa hal.
Pertama, terjadinya kepadatan ekstrem atau overcrowding saat jam sibuk. Kondisi penumpang yang berdesakan terutama di jam berangkat atau pulang kerja meningkatkan stres, emosi, serta potensi konflik antar individu. Saat ruang personal hilang, orang akan lebih mudah tersinggung serta reaktif.
Selain itu banyak juga penelitian yang menyoroti masalah perilaku penumpang seperti tidak memberi jalan penumpang untuk turun terlebih dahulu, memaksa masuk saat kereta sudah penuh, hingga tidak mematuhi aturan prioritas.
Konflik juga berkaitan dengan psikologi individu seperti sifat egoisme yang tinggi, emosi yang tidak terkontrol, serta kurangnya empati terhadap penumpang lain.
Dari sisi fasilitas, jumlah penumpang yang meningkat juga tidak selalu diimbangi dengan fasilitas. Mulai dari gerbong yang terbatas, peron sempit, hingga jadwal padat.
Di sisi lain, penegakan aturan juga tidak konsisten hingga kurang pengawasan di lapangan. Terlebih karakter lingkungan kota besar seperti Jabodetabek memiliki mobilitas yang tinggi dengan tekanan waktu (takut terlambat bekerja).
Hal-hal tersebutlah yang akhirnya menyebabkan potensi konflik karena hal sepele di KRL maupun transportasi umum lainnya menjadi lebih tinggi.
