Jakarta, GPriority.co.id – Animal Friends Jogja (AFJ) bersama koalisi Act for Farmed Animals (AFFA) menggelar aksi damai di depan kantor pusat Fore Coffee di kawasan Thamrin, Jakarta, Selasa (21/7).
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas keputusan Fore Coffee yang menyatakan belum dapat bergabung dalam program transisi menuju penggunaan telur cage-free atau telur bebas sangkar.
Keputusan tersebut disampaikan pihak legal Fore Coffee melalui surat elektronik kepada AFJ pada April 2026. Menurut koalisi, penolakan itu menunjukkan belum adanya komitmen perusahaan dalam meningkatkan standar kesejahteraan hewan di rantai pasoknya, khususnya pada produk makanan pendamping seperti pastry dan donat yang masih berpotensi menggunakan telur dari sistem kandang baterai.
Dalam aksi tersebut, sekitar 20 aktivis AFJ–AFFA menyerahkan karangan bunga duka cita berukuran besar yang ditempatkan di depan gedung kantor pusat Fore Coffee. Karangan bunga itu menjadi simbol keprihatinan atas nasib ribuan ayam petelur yang masih dipelihara dalam kandang sempit, dengan ruang gerak yang disebut hanya sekitar seluas selembar kertas A4.
Selain itu, para aktivis membentangkan spanduk dan poster berisi tuntutan agar Fore Coffee menghentikan penggunaan telur dari sistem kandang baterai. Aksi juga diiringi tabuhan drum marching band serta dua peserta yang mengenakan kostum menyerupai barista sebagai bagian dari kampanye simbolik.
“Sangat mengecewakan melihat Fore Coffee, sebagai merek lokal modern yang kerap mengusung nilai keberlanjutan, justru menolak mengambil langkah menuju penggunaan telur cage-free. Melalui aksi ini, kami mengajak Fore Coffee membuka ruang dialog dan mulai berdiskusi dengan para pemasoknya untuk mendorong pengadaan bahan baku yang lebih beretika,” ujar Manajer Kampanye Program Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan AFJ, Dwi Octavia, dikutip dari rilis resminya.
Dwi menambahkan bahwa industri telur cage-free di Indonesia terus berkembang dengan semakin banyak pemasok yang mampu memenuhi kebutuhan sektor makanan dan minuman.
“Dengan kapasitas pasokan yang terus berkembang, transisi menuju telur cage-free bukan lagi persoalan kesiapan industri, melainkan komitmen perusahaan untuk membangun rantai pasok yang lebih bertanggung jawab,” katanya.
Sementara itu, Pemimpin Kampanye Act for Farmed Animals, Elfha Shavira, menyebut dukungan publik terhadap perubahan kebijakan terus meningkat. Menurutnya, petisi yang telah didukung 17.403 orang menunjukkan semakin tingginya kepedulian konsumen terhadap aspek keberlanjutan dan kesejahteraan hewan.
“Dukungan dari 17.403 orang dalam petisi Fore Coffee menjadi bukti nyata bahwa konsumen Indonesia kini semakin peduli pada aspek keberlanjutan dan etis. Melalui dukungan publik yang kuat ini, kami berharap Fore Coffee segera mengambil langkah nyata dalam membangun rantai pasok yang lebih bertanggung jawab,” ujar Elfha.
Dalam pertemuan di lokasi aksi, perwakilan tim legal Fore Coffee menerima aspirasi koalisi dan menyatakan akan membahas masukan tersebut bersama unit terkait di internal perusahaan. Fore Coffee juga menargetkan memberikan perkembangan lebih lanjut pada Agustus mendatang. AFJ–AFFA berharap pembahasan tersebut berujung pada komitmen publik dan peta jalan transisi menuju penggunaan telur cage-free secara bertahap.
