Indonesia-Jerman Dorong Ekosistem Data Terbuka dan Ketahanan Iklim

Acara “Kerja Sama Indonesia-Jerman FAIR Forward: Mendorong Ekosistem Data Terbuka dan AI Berbasis Masyarakat” di Jakarta, Rabu (6/5). Foto: GPriority/Dimas A Putra Acara “Kerja Sama Indonesia-Jerman FAIR Forward: Mendorong Ekosistem Data Terbuka dan AI Berbasis Masyarakat” di Jakarta, Rabu (6/5). Foto: GPriority/Dimas A Putra

Jakarta, GPriority.co.id – Pemerintah Indonesia terus memperkuat transformasi digital nasional melalui pengembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang inklusif, beretika, dan berbasis kebutuhan lokal.

Salah satunya diwujudkan lewat kerja sama antara Kementerian PPN/Bappenas dan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH melalui program “FAIR Forward – Artificial Intelligence for All”.

Program yang berjalan sejak 2023 tersebut merupakan bagian dari kerja sama pembangunan Jerman melalui Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ).

FAIR Forward sendiri merupakan inisiatif global yang diterapkan di tujuh negara Asia dan Afrika untuk mendemokratisasi AI melalui pengembangan inovasi lokal dan keterbukaan sumber data latih AI.

Direktur Infrastruktur, Ekosistem, dan Keamanan Digital Kementerian PPN/Bappenas Andianto Haryoko menegaskan komitmen pemerintah dalam mempercepat transformasi digital di berbagai sektor.

“Pemerintah Indonesia memiliki komitmen kuat untuk mempercepat transformasi digital nasional. Transformasi ini tidak hanya diwujudkan dalam pembangunan infrastruktur, tetapi juga melalui penguatan kebijakan pemerintah, tata kelola data, keamanan digital, serta pengembangan ekosistem dan inovasi digital yang berkelanjutan,” ujar Direktur Andianto dalam Acara “Kerja Sama Indonesia-Jerman FAIR Forward: Mendorong Ekosistem Data Terbuka dan AI Berbasis Masyarakat” di Jakarta, Rabu (6/5).

Sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, Kementerian PPN/Bappenas bersama FAIR Forward juga meneliti berbagai isu terkait krisis iklim dan pemanfaatan AI untuk mendukung ekonomi biru Indonesia.

Selain itu, program ini turut melanjutkan pembelajaran sebaya (peer-to-peer learning) dan pengembangan kapasitas pembuat kebijakan di bidang AI, sekaligus memperkuat pembelajaran lintas negara Asia dan Afrika terkait tata kelola AI.

Urban Development dan Cross-Cutting Topics Cooperation Area Lead GIZ Thomas Foerch mengatakan Jerman siap mendukung penguatan sumber daya manusia Indonesia dalam inovasi transformasi digital.

Kata dia, Jerman dikenal secara global sebagai pusat pemajuan inovasi. Melalui keunikan FAIR Forward berkomitmen untuk mendorong Indonesia sebagai uji coba inovasi AI dalam kerja sama bilateral antara negaranya.

“Dimulai dari mengembangkan data latih dan sumber data terbuka, penguatan kemampuan teknis SDM lokal, dan mengembangkan kerangka kebijakan AI beretika dari pembelajaran EU AI Act dan sesama negara Afrika serta Asia. Kami juga membuka kesempatan belajar Etika AI untuk Pembuat Kebijakan bersertifikat secara gratis di platform global Atingi,” urai Thomas.

FAIR Forward juga mendorong pendekatan AI yang inklusif bagi masyarakat adat, terutama dalam mendukung ketahanan iklim. Pendekatan tersebut menitikberatkan pada etika pengumpulan data terbuka dengan mempertimbangkan analisa gender dan prinsip PADIATAPA (Persetujuan di Awal Tanpa Paksaan).

Komitmen itu bahkan mendapat nominasi UN SDG Digital GameChangers Award 2024 kategori Planet – Innovation for our climate and environment melalui proyek “Artificial Intelligence Meets Jungle/Forest Forward”.

Tak hanya itu, FAIR Forward turut berkontribusi dalam pengembangan kebijakan etika AI nasional dan internasional yang berwawasan lingkungan, termasuk UNESCO AI for Environment and Ecosystems Toolkit for Policymakers.

Melalui kolaborasi dengan berbagai mitra, FAIR Forward telah melahirkan sejumlah proyek berbasis AI, salah satunya pemetaan indikatif hutan High Carbon Stock (HCS) nasional yang dikembangkan bersama Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP). Model tersebut kini menjadi percontohan bagi pemerintah Goa, India dan Senegal, Afrika Barat.

Program ini juga memperkuat kapasitas masyarakat pesisir di Maros dan Pulo Aceh melalui jaringan internet komunitas dan pendekatan sains warga berbasis pemodelan AI lokal guna meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Di sisi lain, para pengambil kebijakan mendapat pelatihan AI dari Harapura Impact dan Aptaworks melalui ruang dialog strategis agar mampu memahami potensi dan risiko AI secara kritis, kontekstual, dan partisipatif demi mendorong tata kelola AI yang beretika di Indonesia.