Yerusalem, GPriority.co.id – Puluhan demonstran berkumpul di Yerusalem, Sabtu (9/5) dan menggelar aksi protes terhadap pemerintahan Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Dari video yang beredar, massa turun ke jalan sambil membawa bendera Israel beserta poster bernada kritik terhadap kebijakan pemerintah di tengah konflik yang terus berlangsung di Gaza.
Aksi demonstrasi ini menjadi bagian dari gelombang protes yang kembali mencuat di Israel dalam beberapa bulan terakhir. Mereka menuntut perubahna politik, pemilu baru, serta mendesak pemerintah untuk mengambil langkah lebih tegas terkait nasib para sandera yang masih ditahan Hamas hingga saat ini.
Sejumlah demonstran terlihat berkumpul di dekat kawasan pemerintahan dan rumah pribadi Netanyahu di Yerusalem. Polisi Israel menjaga ketat lokasi aksi guna mengantisipasi bentrokan dan gangguan keamanan.
Hingga aksi berlangsung, situasi dilaporkan tetap terkendali meski massa terus meneriakkan slogan anti-pemerintah.
Salah satu demonstran, Timna Benn, menyampaikan kekecewaannya terhadap kepemimpinan Netanyahu. Ia menilai pemimpin tersebut gagal menangani berbagai krisis nasional.
“Kami di sini untuk memprotes. Kami meminta pemilu digelar sesegera mungkin. Kami merasa situasi sudah berada di ujung batas. Kami benar-benar ingin menyingkirkan Bibi (julukan Netanyahu),” ujar Benn dikutip dari Reuters.
Senada, demonstran lainnya yang diketahui bernama Oren Shvill, menyebut masyarakat Israel membutuhkan perubahan besar dalam pemerintahan saat ini.
“Proses pemulihan bagi negara Israel dimulai dari sini. Setelah Benny Gantz dan Eisenkot keluar dari koalisi, kami berharap pemerintah ini segera mengundurkan diri,” tegas Shvill.
Sebagai informasi, gelombang protes terhadap Netanyahu terus meningkat sejak perang Gaza pecah setelah serangan Hamas pada Oktober tahun lalu. Banyak warga Israel menilai pemerintah gagal mengantisipasi serangan tersebut dan lamban dalam upaya membebaskan para sandera.
Selain isu keamanan, Netanyahu juga menghadapi tekanan politik terkait kebijakan wajib militer bagi kelompok ultra-Ortodoks Yahudi yang selama ini mendapat pengecualian. Kebijakan itu memicu perdebatan luas di tengah tingginya kebutuhan personel militer Israel selama perang berlangsung.
Meski aksi demonstrasi terus berlangsung, Netanyahu hingga kini masih mempertahankan dukungan mayoritas di parlemen Israel. Namun, tekanan publik yang semakin besar diperkirakan akan terus membayangi stabilitas politik pemerintahannya dalam beberapa waktu ke depan.
