Timur Tengah, GPriority.co.id – Harga minyak dunia kembali melemah hingga mendekati level sebelum konflik di Timur Tengah pecah.
Penurunan ini dipicu oleh membaiknya arus pelayaran di Selat Hormuz, setelah pemerintah Oman menegaskan tidak akan mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. Kondisi ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Minyak mentah acuan Brent sempat diperdagangkan di kisaran US$72–75 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$71–72 per barel. Harga tersebut merupakan level terendah sejak sebelum perang Iran, setelah sebelumnya sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik dan ancaman terhadap jalur distribusi minyak dunia.
Kementerian Transportasi Oman membantah kabar bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz akan dikenai tarif baru. Dalam pernyataannya, pemerintah menegaskan, “Tidak ada biaya transit yang dikenakan kepada kapal yang melintasi Selat Hormuz.”
Kebijakan itu dinilai memberikan kepastian bagi perusahaan pelayaran dan pelaku pasar energi internasional.
Selain itu, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright juga menyampaikan bahwa aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai kembali normal.
“Arus pengiriman melalui Selat Hormuz sudah hampir kembali seperti sebelum perang Iran dimulai. “Sedikitnya 20 juta barel minyak telah keluar melalui selat tersebut dalam 24 jam terakhir,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa proses normalisasi penuh masih memerlukan waktu beberapa pekan karena jalur pelayaran masih membutuhkan proses pembersihan dari ranjau.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa pasar energi masih dibayangi risiko geopolitik. Insiden serangan terhadap sebuah kapal kargo di dekat Oman serta ketegangan yang belum sepenuhnya mereda dapat kembali memicu volatilitas harga minyak sewaktu-waktu.
Dengan kembali lancarnya lalu lintas kapal tanker dan kepastian tidak adanya biaya tambahan di Selat Hormuz, kekhawatiran akan krisis pasokan minyak global mulai mereda.
Meski harga minyak dunia saat ini telah turun ke level sebelum perang, investor tetap mencermati perkembangan keamanan di kawasan Timur Tengah yang masih berpotensi memengaruhi pasar energi internasional dalam beberapa waktu ke depan.
