Menag Nilai Pindapata Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Pelajaran Kehidupan

Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir dalam Pindapata Nasional Gema Waisak di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta, Minggu (10/5)/Foto Kemenag

Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai ritual berdana bagi umat Buddha, yakni Pindapata Nasional Gema Waisak 2570 B.E/2026, bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan pelajaran tentang kehidupan, kesederhanaan, dan kebijaksanaan.

Hal itu disampaikan Nasaruddin saat menghadiri acara Pindapata Nasional Gema Waisak di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta, Minggu (10/5).

“Hari ini kita tidak hanya menyaksikan sebuah tradisi keagamaan. Kita sedang menyaksikan pelajaran tentang kehidupan. Di tengah hiruk pikuknya kota Jakarta, para bikhu berjalan perlahan di dalam keheningan,” ujar Nasaruddin.

Menurutnya, Pindapata menjadi perjumpaan batin antara yang memberi dan menerima. Dalam tradisi berdana, umat diajarkan untuk melembutkan hati, sementara dari kesederhanaan para bhikkhu, masyarakat belajar bahwa manusia tidak dibesarkan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh apa yang mampu dilepaskan.

Lebih lanjut, Nasaruddin mengutip Dhammapada syair 118 tentang pentingnya mengulang kebajikan karena buah dari kebajikan akan membawa kebahagiaan.

Ia mengatakan, pesan tersebut mengingatkan umat manusia bahwa memberi bukan sekadar memindahkan sesuatu dari tangan ke tangan, tetapi juga memindahkan kehangatan dari hati ke hati.

“Pesan ini mengingatkan kita bahwa memberi bukan sekadar memindahkan sesuatu dari tangan ke tangan, tetapi juga memindahkan kehangatan dari hati ke hati,” katanya.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Nasaruddin menilai manusia kerap lupa memahami dirinya sendiri. Karena itu, menurutnya, Pindapata mengajak masyarakat berhenti sejenak untuk mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang berbagi.