Rahasia Diet Dr. Gia Pratama Hingga Turun 30 Kg

dr. Gia saat menjadi narasumber talkshow Hari Obesitas Sedunia di Kemenkes, Kamis (7/5)/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) dr. Gia saat menjadi narasumber talkshow Hari Obesitas Sedunia di Kemenkes, Kamis (7/5)/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Nama dr. Gia Pratama tengah menjadi perhatian usai bersliweran di media sosial, salah satunya saat ia membagikan kisah suksesnya menurunkan berat badan hingga 30 kilogram.

Dokter yang dikenal aktif mengedukasi soal kesehatan itu mengaku pernah berada di titik obesitas dengan berat mencapai 100 kilogram.

Perjalanan diet dr. Gia bukan dimulai karena ingin tampil lebih menarik, melainkan dipicu pengalaman emosional saat bertugas di IGD. Ia menangani pasien serangan jantung yang memiliki usia dan penampilan mirip dengannya. Momen itu menjadi titik balik dalam hidupnya.

“Yang men-trigger harus turun BB ketika di IGD nerima pasien serangan jantung,” ujar dr. Gia saat menjadi narasumber talkshow Hari Obesitas Sedunia di Kemenkes, beberapa waktu lalu.

Pengalaman tersebut membuatnya sadar bahwa obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, tetapi juga berkaitan erat dengan risiko penyakit serius seperti jantung dan diabetes. Dari situlah ia mulai berkomitmen menjalani pola hidup sehat.

Menariknya, dr. Gia menegaskan dirinya tidak menjalani diet ekstrem. Ia lebih fokus pada pengurangan asupan kalori secara perlahan namun konsisten. Menurutnya, banyak orang gagal diet karena terlalu memaksakan perubahan drastis dalam waktu singkat.

“Nggak sadar diri, ah ambil satu gorengan, tiba-tiba nggak sadar lima yang habis,” katanya menjelaskan kebiasaan makan yang sering dianggap sepele.

Dr. Gia juga menekankan pentingnya memiliki alasan kuat atau “why” sebelum memulai program penurunan berat badan. Baginya, motivasi internal jauh lebih penting dibanding sekadar ikut tren diet.

Ditemui wartawan selepas acara, ia menyebut, keberhasilan diet bukan hanya soal olahraga dan makanan.

“20 persen pola makan, 20 persen olahraga, dan 60 persen niat dan keikhlasan menjalankan 40 persen itu,” ungkapnya.

Selain menjaga makan, dr. Gia mulai lebih sadar terhadap pola hidup sehari-hari, termasuk mengontrol camilan, mengurangi makanan berminyak, dan menjaga konsistensi aktivitas fisik. Ia percaya perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus akan memberikan hasil besar dalam jangka panjang.

Sementara ketika disinggung soal olahraga, alih-alih menyarankan olahraga berat, dr. Gia pun menyebut 1 hal simpel.

“Olahraga yang terbaik adalah olahraga yang dilakukan, bukan yang di angan-angan, bukan yang direncanakan. Balik lagi ke nawaitunya. Justru kalau mau produktif bekerjanya ya harus olahraga, meningkatkan produktivitas. Olahraga yang cukup, nutrisi yang cukup, dan istirahat yang cukup,” pungkasnya.

Kisah dr. Gia menjadi pengingat bahwa diet sehat tidak harus menyiksa. Kunci utamanya adalah disiplin, konsisten, dan memahami kebutuhan tubuh sendiri.

Dengan pola makan yang lebih teratur serta niat kuat, penurunan berat badan dapat dicapai secara sehat dan bertahap.