Viral di Medsos, Lagu “Pesta Para Babi” Jadi Kritik Sosial Suara Rakyat Papua

Lagu pesta para babi yang viral di medsos dan disebut menjadi kritik sosial dari rakyat Papua/Foto : Dok. Tangkapan Layar YouTube @parikesitentertainment Lagu pesta para babi yang viral di medsos dan disebut menjadi kritik sosial dari rakyat Papua/Foto : Dok. Tangkapan Layar YouTube @parikesitentertainment

Jakarta, GPriority.co.id – Lagu “Pesta Para Babi” mendadak viral di berbagai platform media sosial setelah potongan lirik dan video dokumenternya ramai dibagikan warganet.

Dihimpun dari berbagai sumber, lagu bernuansa kritik sosial itu dinilai menyuarakan keresahan masyarakat papua terhadap pembangunan yang dianggap mengabaikan hak masyarakat adat dan lingkungan.

Popularitas lagu tersebut meningkat usai dikaitkan dengan film dokumenter “Pesta Babi” karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale. Film itu membahas konflik agraria, proyek pangan skala besar, hingga dampak industrialisasi di Papua Selatan.

Di media sosial, penggalan lirik seperti “Papua menangis di balik proposal” ramai digunakan sebagai latar video kritik sosial dan isu lingkungan. Banyak pengguna TikTok hingga Instagram menyebut lagu tersebut sebagai bentuk “suara luka dari Timur Indonesia”.

Fenomena viral ini juga memicu diskusi luas mengenai kebebasan berekspresi dan ruang kritik di Indonesia. Sejumlah akademisi, aktivis, hingga komunitas seni menilai lagu dan film dokumenter tersebut berhasil membuka percakapan publik mengenai pembangunan di Papua yang selama ini jarang disorot secara mendalam.

Sebagai informasi, film dokumenter dokumenter “Pesta Babi” disebut bukan sekadar hiburan, melainkan “cermin yang memaksa masyarakat melihat wajahnya sendiri”. Media itu juga menyoroti bagaimana karya tersebut memunculkan pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya dikorbankan di balik narasi pembangunan nasional.

Sementara itu, video musik dan berbagai versi cover lagu “Pesta Para Babi Pembangunan” terus bermunculan di YouTube. Salah satu versi metal bahkan ikut viral dan menarik perhatian generasi muda karena dianggap lebih emosional dan penuh kemarahan sosial.

Hingga kini, tagar terkait “Pesta Para Babi” masih terus ramai diperbincangkan di TikTok, Instagram, dan YouTube. Banyak warganet menyebut lagu tersebut sebagai simbol kritik generasi muda terhadap pembangunan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat adat Papua.