Piala Dunia 2026 dan Hambatan Imigrasi Amerika Serikat ke Tim Nasional Negara Muslim

Washington, Gpriority.co.id – Dua hari penyelenggaraan Piala Dunia 2026 menyisakan sejumlah PR, khususnya terkait persoalan imigrasi dan hambatan kepada sejumlah pemain dan Tim Nasional. Secara kebetulan, persoalan dan hambatan itu datang dari Amerika Serikat, sebagai penyelenggara kepada Tim Nasional negara-negara muslim.

Kasus pertama ialah penolakan masuk terhadap wasit Somalia, Omar Abdulkadir Artan, yang semula terpilih memimpin pertandingan di Piala Dunia 2026. Meski telah mengantongi visa yang sah, Artan dideportasi saat tiba di Amerika Serikat sehingga dicoret dari daftar perangkat pertandingan Piala Dunia. Saat kembali ke Mogadishu, ia mendapat sambutan heroik dari ratusan pendukung, pejabat pemerintah, dan insan sepak bola.

Artan yang pernah dinobatkan sebagai Wasit Terbaik CAF 2025 dan menjadi calon wasit pertama Somalia di Piala Dunia itu akhirnya malah ditunjuk UEFA sebagai wasit laga bergengsi UEFA Super Cup 2026, sebuah pengakuan atas kualitas dan dedikasinya sebagai salah satu wasit top Afrika.

Insiden kedua yang mencoreng wajah Amerika Serikat yang mengaku sebagai negara demokrasi terbesar di dunia ialah diperiksa dan ditahannya Aymen Hussein, striker dan kapten timnas Irak, di Bandara Chicago. Hussein diinterogasi panjang setelah tiba dari Spanyol saat pemain lain hanya mengalami penundaan singkat. Hussein akhirnya dilepaskan dan kembali bergabung dengan tim.

Pemeriksaan ketat juga dilakukan otoritas Amerika Serikat kepada Tim Nasional Uzbekistan saat tiba di Icahn Stadium, New York. Pemain dan staf diperiksa dengan metal detector dan anjing pelacak. Pemeriksaan ini memicu perdebatan karena dilakukan sesaat sebelum laga persahabatan melawan Belanda.

Hal yang sama juga dialami oleh staf timnas Senegal yang dilaporkan dipaksa melepas sepatu dan menjalani pemeriksaan panjang, memicu tuduhan tindakan rasisme.

Persoalan yang serupa dihadapkan Tim Nasional Iran saat menghadapi masalah visa. Diketahui sejumlah delegasi menunggu berhari-hari di Konsulat AS di Turki dan 15 anggota delegasi sempat ditolak visa, sehingga AS hanya mengizinkan mereka masuk pada hari pertandingan.

Insiden dalam Piala Dunia 2026 ini lantas menimbulkan spekulasi liar di dunia maya. Sebagian netizen dan pengamat menilai tindakan itu menunjukkan adanya bias terhadap delegasi dari negara mayoritas Muslim, sementara pihak lain menekankan bahwa prosedur ketat adalah bagian dari standar keamanan penyelenggaraan acara besar.

Satu hal yang pasti, insiden-insiden ini memicu kemarahan dan keprihatinan komunitas sepak bola internasional. Observers menyatakan bahwa keterlambatan, penolakan visa, dan pemeriksaan berlebihan dapat mengganggu persiapan tim, konsentrasi pemain, dan citra penyelenggaraan Piala Dunia. FIFA juga seakan tak berkutik terhadap kebijakan Amerika Serikat ini.

Foto : Wikipedia