Jakarta, GPriority.co.id – Tahun Baru Islam yang diperingati setiap 1 Muharram selama ini identik dengan momen refleksi dan hijrah diri. Namun, di balik peringatannya, terdapat sejumlah fakta menarik yang masih jarang diketahui umat muslim.
Salah satu fakta yang paling mengejutkan adalah bahwa penetapan Tahun Baru Islam ternyata tidak dilakukan pada masa Nabi Muhammad SAW.
Dihimpun dari berbagai sumber, kalender Hijriah baru disusun dan ditetapkan beberapa tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.
Menurut catatan sejarah, kebutuhan akan sistem penanggalan yang baku muncul ketika pemerintahan Islam semakin luas. Kala itu, banyak surat dan dokumen resmi yang tidak memiliki penanda tahun sehingga menimbulkan kebingungan administrasi.
Umar bin Khattab kemudian mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah menentukan awal kalender Islam setelahnya.
Fakta menarik lainnya, kalender Hijriah tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW maupun turunnya wahyu pertama. Para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah sebagai titik awal penanggalan Islam, karena dianggap sebagai tonggak penting lahirnya peradaban Islam.
Bulan Muharram sebenarnya telah dimuliakan oleh masyarakat Arab bahkan sebelum Islam datang. Nama “Muharram” berasal dari Bahasa Arab yang berarti sesuatu yang dihormati atau diharamkan dari peperangan dan tidak buruk.
Setelah Islam hadir, kedudukan bulan ini tetap dipertahankan sebagai salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan. Menariknya lagi, meskipun peristiwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabiul Awal, para sahabat memilih Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah.
Keputusan ini diambil karena Muharram dianggap sebagai momentum awal yang tepat setelah umat Islam menyelesaikan ibadah haji dan memulai lembaran baru kehidupan. Hal ini disepakati dalam musyawarah para sahabat pada masa Umar bin Khattab.
Di sisi lain, kalender Hijriah menggunakan sistem peredaran bulan (qamariyah), yang berbeda dengan kalender Masehi yang mengikuti peredaran matahari. Akibatnya, jumlah hari dalam satu tahun Hijriah sekitar 354 atau 355 hari, lebih pendek sekitar 10 hingga 11 hari dibandingkan kalender Masehi. Karena itulah, tanggal-tanggal penting Islam selalu bergeser setiap tahun jika dilihat dari kalender Gregorian.
Sejarah panjang tersebut menunjukkan bahwa Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Di balik 1 Muharram tersimpan kisah hijrah, musyawarah para sahabat, serta lahirnya sistem penanggalan yang hingga kini digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia.
