Jakarta, GPriority.co.id – Fenomena melabeli pasangan sebagai green flag atau red flag semakin marak di media sosial, terutama Instagram dan TikTok.
Namun, para ahli menilai kebiasaan tersebut dapat membuat hubungan asmara menjadi terlalu sederhana dan kehilangan kompleksitasnya sebagai interaksi antarmanusia.
Dalam laporan terbaru yang diulas WION, tren hubungan modern kini banyak dipengaruhi oleh konten media sosial yang membagi karakter pasangan ke dalam kategori tertentu.
Seseorang yang menunjukkan perilaku positif akan langsung disebut green flag, sedangkan perilaku yang dianggap bermasalah diberi label red flag. Namun, para pakar hubungan mengingatkan bahwa tidak semua dinamika cinta dapat dinilai hanya dengan dua label tersebut.
Menurut psikolog dan konselor hubungan yang dikutip dalam berbagai kajian hubungan modern, green flag merupakan tanda bahwa seseorang memiliki karakter yang mendukung hubungan sehat, seperti komunikasi terbuka, rasa hormat, serta kemampuan bertanggung jawab atas tindakannya.
Sebaliknya, red flag mengacu pada perilaku yang berpotensi merusak hubungan, seperti manipulasi, kebohongan, atau sikap mengontrol pasangan.
WION menyoroti bahwa budaya media sosial sering kali mendorong pengguna untuk mencari “bukti” bahwa pasangan mereka termasuk kategori tertentu. Akibatnya, setiap tindakan kecil dapat dianalisis secara berlebihan.
Fenomena ini bahkan memunculkan istilah baru seperti beige flag, yellow flag, hingga berbagai kategori lain yang membuat penilaian hubungan semakin rumit.
Seorang pengamat hubungan yang dikutip dalam pembahasan tersebut menilai bahwa manusia cenderung mencari kepastian dan jawaban cepat. Label green flag maupun red flag memberikan kesan sederhana sehingga mudah diterima publik.
Namun, hubungan yang sehat sebenarnya dibangun melalui komunikasi, kompromi, dan proses memahami pasangan secara mendalam, bukan sekadar mencocokkan perilaku dengan daftar tanda tertentu.
Pakar hubungan juga mengingatkan bahwa fokus berlebihan pada kesalahan pasangan dapat membuat seseorang mengabaikan kualitas positif yang dimiliki. Sebaliknya, terlalu terpaku pada label green flag juga berisiko menciptakan ekspektasi yang tidak realistis terhadap pasangan.
Di era Instagram, konten hubungan memang menjadi sumber informasi populer bagi generasi muda. Namun, para ahli menyarankan agar pengguna media sosial menjadikan konten tersebut sebagai referensi, bukan sebagai standar mutlak dalam menilai kualitas hubungan.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah hubungan tidak ditentukan oleh label yang viral di internet, melainkan oleh rasa saling menghormati, kepercayaan, dan kemampuan kedua pihak untuk tumbuh bersama.
