Nabire, GPriority.co.id – Kabupaten Nabire, Papua Tengah, tengah menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap dan mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi ini terjadi ketika wilayah Papua masih menghadapi tingginya potensi kebakaran akibat cuaca panas dan kering.
Data pemantauan kualitas udara menunjukkan indeks kualitas udara di Nabire berada pada angka 199 pada 16 September 2026, yang masuk kategori tidak sehat. Data pemantauan kualitas udara juga menunjukkan Nabire berada pada level tinggi dibandingkan sejumlah wilayah lain yang mengalami polusi udara.
Kabut asap di Nabire dilaporkan telah berlangsung selama lebih dari sebulan. Pada Selasa (15/9), kebakaran kembali dilaporkan terjadi di kawasan Bukit Girimulyo, tepat di atas kompleks pemakaman Muslim Girimulyo. Selain itu, titik api juga terpantau di sejumlah kawasan lain di Nabire.
Direktur Eksekutif WALHI Papua Maikel Primus Peuki mengatakan kebakaran terbaru tersebut menambah panjang rangkaian karhutla yang terjadi di Nabire sejak pertengahan tahun. Berdasarkan pemantauan lapangan, asap bahkan kembali menyelimuti sejumlah kawasan perkotaan dan mengganggu jarak pandang serta aktivitas warga.
“Karhutla semakin masif di tanah Papua. Verifikasi lapangan, hampir semua titik panas menimbulkan titik api. Ini jadi isu krusial untuk tanah Papua,” ujar Maikel Primus Peuki, dikutip dari Mongabay.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat karhutla di Nabire pada 18 Juli hingga 23 Agustus 2026 telah membakar sekitar 396,13 hektare lahan. Kebakaran tersebut tersebar di tujuh distrik, yakni Teluk Kimi, Nabire Kota, Nabire Barat, Wanggar, Nabire, Makimi, dan Yaur. BNPB menyebut kondisi panas, angin kencang, serta semak dan ilalang kering menjadi faktor pemicu kebakaran.
Situasi cuaca juga menjadi faktor penting. BMKG menyatakan September 2026 masih menjadi periode kritis karhutla karena kondisi atmosfer relatif kering yang diperkuat fenomena El Niño sangat kuat. Pada Dasarian I September, indeks Niño 3.4 tercatat +2,76°C.
Di sisi lain, WALHI Papua menyampaikan temuan berbeda mengenai penyebab karhutla. Organisasi tersebut menyoroti keberadaan titik panas di kawasan konsesi dan area yang berkaitan dengan proyek berskala besar, termasuk food estate di Papua. WALHI mengaitkan pola kebakaran berulang dengan pembukaan lahan dan aktivitas di kawasan berizin.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan penyebab karhutla di Papua masih menjadi persoalan yang perlu ditelusuri melalui verifikasi lapangan. Sementara itu, kabut asap Nabire terus menjadi perhatian karena berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat dan kualitas lingkungan.
