Berburu Mulai Ditinggalkan, Warga Kalbar Kini Raup Cuan dari Foto Satwa Liar

Program yang diinisiasi konsultan lingkungan Borneo Futures membayar warga di sembilan desa di Kalimantan Barat untuk mengirimkan foto, video, atau rekaman suara satwa liar yang mereka temukan/Foto : Dok. Borneo Futures Program yang diinisiasi konsultan lingkungan Borneo Futures membayar warga di sembilan desa di Kalimantan Barat untuk mengirimkan foto, video, atau rekaman suara satwa liar yang mereka temukan/Foto : Dok. Borneo Futures

Kalimantan Barat, GPriority.co.id – Hutan di sejumlah desa di Kalimantan Barat kini menjadi tempat berburu dengan cara berbeda. Warga tidak lagi masuk hutan untuk menangkap satwa, tetapi membawa telepon seluler dan kamera untuk berburu foto satwa liar. Aktivitas tersebut bahkan dapat menjadi sumber penghasilan tambahan.

Mengutip laporan AFP, program yang diinisiasi konsultan lingkungan Borneo Futures membayar warga di sembilan desa di Kalimantan Barat untuk mengirimkan foto, video, atau rekaman suara satwa liar yang mereka temukan. Nilai pembayaran bervariasi, mulai dari sekitar Rp5.000 untuk burung umum hingga Rp130.000 untuk orangutan.

Pengamat satwa yang paling aktif bahkan dapat memperoleh penghasilan hingga Rp10 juta per bulan. Program tersebut sekaligus menjadi alternatif mata pencaharian bagi warga yang sebagian besar bekerja sebagai petani.

Borneo Futures menyebut lebih dari 350.000 observasi satwa liar telah dikirimkan melalui program ini. Sekitar separuh observasi tersebut telah divalidasi dan dibayarkan kepada warga. Data yang dikumpulkan kemudian dimanfaatkan untuk memantau persebaran serta perubahan populasi satwa liar.

Salah satu wildlife observer, Octavius, mengatakan kepada AFP bahwa dirinya bisa memperoleh sekitar Rp4 juta per bulan dari pembayaran hasil pengamatan satwa. Penghasilan tersebut membantunya memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anaknya.

“Ini pekerjaan sampingan dan tidak mengganggu pekerjaan saya,” ujar Octavius kepada AFP. Ia mengatakan, ketika sedang bekerja mengumpulkan daun kratom dan mendengar suara burung, dirinya dapat mendekati sumber suara untuk mengamati, memotret, atau merekam satwa tersebut.

Manfaat ekonomi juga dirasakan Antonia Uneng, warga Desa Sungai Ajung. Perempuan berusia 36 tahun itu mengatakan program tersebut memberinya penghasilan sendiri sehingga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada suaminya.

“Saya memiliki penghasilan sendiri, jadi saya tidak bergantung pada suami saya,” kata Antonia kepada AFP.

Dampak program juga mulai terlihat pada perilaku masyarakat terhadap satwa liar. Menurut Borneo Futures, dua desa peserta secara sukarela mulai menerapkan larangan berburu setelah program tersebut berjalan.

Direktur Borneo Futures Indonesia Nardiyono mengatakan warga mulai memahami bahwa satwa yang dibiarkan hidup dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

“Jika mereka mengambil hanya lima foto, mereka bisa mendapatkan Rp50.000, sementara burung tersebut tetap berada di lingkungannya, masih dapat diamati, dan tetap bisa berkembang biak,” ujar Nardiyono kepada AFP.

Program tersebut menerapkan pendekatan citizen science, dengan melibatkan masyarakat sebagai pengumpul data keanekaragaman hayati. Borneo Futures menyebut program ini telah berkembang dengan sekitar 800 pengamat di sembilan desa.

Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana konservasi satwa liar berbasis masyarakat dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi. Warga kini memiliki insentif untuk menjaga satwa tetap hidup dan berada di habitatnya, bukan menangkap atau memburunya.