Bukan Sekadar Jeroan, Babat Sapi Ternyata Kaya Kolagen!

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry menemukan bahwa babat sapi mengandung kolagen sebesar 20,1 persen dari total protein dan elastin 1 persen/Foto : Ilustrasi Dok. YouTube Nuraaini Soewarto Studi yang diterbitkan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry menemukan bahwa babat sapi mengandung kolagen sebesar 20,1 persen dari total protein dan elastin 1 persen/Foto : Ilustrasi Dok. YouTube Nuraaini Soewarto

Jakarta, GPriority.co.id – Babat sapi selama ini kerap dianggap sebagai jeroan murah yang kurang bergizi. Padahal, penelitian menunjukkan bagian lambung sapi tersebut memiliki kandungan protein dengan komponen kolagen yang cukup tinggi.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry menemukan bahwa babat sapi mengandung kolagen sebesar 20,1 persen dari total protein dan elastin 1 persen. Penelitian tersebut juga menyebut babat menyediakan sejumlah asam amino esensial dalam jumlah yang memadai.

Temuan mengenai kandungan kolagen ini kembali disebut dalam penelitian yang diterbitkan Food Chemistry. Studi tersebut menjelaskan bahwa karakteristik utama babat sapi adalah tingginya kandungan kolagen dan elastin.

Salah satu komponen yang berkaitan dengan kolagen adalah asam amino glycine. Kiltz Health menyebut glycine dalam babat dikaitkan dengan sejumlah fungsi fisiologis, antara lain sebagai prekursor kreatin serta kemungkinan perannya dalam perlindungan lambung dan metabolisme setelah konsumsi protein.

Sementara itu, glutamine disebut berperan sebagai bahan bakar bagi sel usus dan sel imun. Klaim-klaim tersebut perlu dipahami sebagai potensi fungsi nutrisi, bukan sebagai bukti bahwa makan babat dapat mengobati penyakit tertentu.

Penelitian terbaru pada 2026 juga menambah perhatian terhadap potensi bioaktif babat. Studi yang dipublikasikan di Food Bioscience mengidentifikasi sejumlah peptida dari babat sapi setelah proses pencernaan dan menguji beberapa di antaranya dalam model sel.

Hasilnya menunjukkan aktivitas yang berkaitan dengan respons anti-inflamasi, tetapi penelitian lanjutan pada manusia masih diperlukan sebelum manfaat klinis dapat disimpulkan. Selain itu, cara memasak babat juga menjadi perhatian.

Penelitian Food Chemistry menemukan bahwa proses pencernaan menghasilkan pelepasan asam amino dan peptida dari protein babat. Dalam penelitian tersebut, babat yang telah dimasak dan kemudian mengalami simulasi pencernaan menunjukkan aktivitas antioksidan paling tinggi.

Babat umumnya dimasak dengan cara direbus hingga teksturnya empuk, misalnya dalam soto atau sup. Namun, anggapan bahwa kolagen dari babat otomatis “lebih mudah diserap” hanya karena direbus sebaiknya tidak digeneralisasi tanpa bukti pada manusia.

Babat juga perlu dikonsumsi secara bijak, khususnya oleh orang yang memiliki masalah asam urat. Makanan berbahan jeroan secara umum termasuk kelompok yang perlu dibatasi dalam pengaturan pola makan untuk gout karena kandungan purinnya.

Menambahkan jeruk nipis atau lemon dapat memberikan vitamin C. Nutrisi ini dibutuhkan tubuh untuk sintesis kolagen dan dapat meningkatkan penyerapan zat besi non-heme, terutama yang berasal dari pangan nabati. Kendati demikian, klaim bahwa jeruk meningkatkan penyerapan zat besi hingga 4–6 kali tidak dapat diterapkan secara umum pada semua makanan.