Jakarta, GPriority.co.id – Kebiasaan memikirkan masalah secara berulang atau overthinking kerap dialami banyak orang. Mulai dari mengkhawatirkan masa depan hingga terus mengingat kejadian buruk di masa lalu. Namun, jika pikiran negatif terus berulang dan sulit dikendalikan, kebiasaan ini ternyata berkaitan dengan kesehatan kognitif.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia pada 2020 menemukan hubungan antara repetitive negative thinking (RNT), penurunan fungsi kognitif, dan peningkatan sejumlah penanda biologis yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer. Meski demikian, temuan ini tidak membuktikan bahwa overthinking secara langsung menyebabkan Alzheimer.
Apa Itu Repetitive Negative Thinking?
RNT merupakan pola berpikir negatif yang terjadi berulang kali. Pola ini mencakup dua bentuk utama, yaitu worry atau kekhawatiran berlebihan terhadap sesuatu yang belum terjadi, serta rumination, yakni kebiasaan terus memikirkan pengalaman buruk yang sudah berlalu.
Dalam studi tahun 2020, peneliti menganalisis data peserta lanjut usia yang menjalani penilaian kognitif longitudinal. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat RNT yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan kemampuan kognitif secara keseluruhan serta kemampuan mengingat dalam periode 48 bulan.
Peneliti juga menemukan hubungan antara RNT dan dua penanda biologis yang diteliti dalam penyakit Alzheimer, yaitu protein amiloid dan tau. Namun, para peneliti menyatakan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui apakah mengurangi RNT dapat menurunkan risiko Alzheimer.
Temuan serupa muncul dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal BMC Psychiatry pada 2 Juni 2025. Studi terhadap 424 orang berusia 60 tahun ke atas tersebut menemukan hubungan antara tingkat RNT yang lebih tinggi dan skor fungsi kognitif yang lebih rendah.
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang, sehingga hanya menunjukkan hubungan pada data yang diamati, bukan membuktikan bahwa pikiran negatif berulang menjadi penyebab langsung penurunan fungsi otak. Peneliti juga merekomendasikan penelitian lanjutan untuk memahami hubungan tersebut secara lebih mendalam.
Bagaimana Mengelola Overthinking?
Pikiran negatif sesekali merupakan hal yang wajar dan tidak otomatis menandakan gangguan otak. Namun, jika terus berulang hingga mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, kondisinya perlu diperhatikan.
Beberapa langkah yang dapat dicoba meliputi menjaga pola tidur, berolahraga secara teratur, melakukan latihan relaksasi, serta membatasi waktu untuk memikirkan masalah dengan mengarahkan perhatian pada hal yang bisa dikendalikan.
Jika pikiran berulang sulit dihentikan atau mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat membantu menemukan strategi penanganan yang sesuai.
Kesimpulannya, overthinking belum terbukti secara langsung menyebabkan penurunan fungsi otak atau Alzheimer. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pola pikir negatif yang terus berulang berkaitan dengan fungsi kognitif dan penanda biologis tertentu, sehingga kesehatan mental tetap penting untuk dijaga.
