Jakarta, GPriority.co.id – Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA, MA, SMK, dan sederajat resmi dimulai serentak pada Senin (26/10). Pelaksanaan TKA SMA 2026 menghadirkan perubahan penting dalam sistem penilaian, yakni penggunaan skala skor 200–800 yang tidak lagi sekadar menghitung jumlah jawaban benar.
Berdasarkan laporan Sumut Pos, sebanyak 3.864.195 murid dari sekitar 4,2 juta peserta terdaftar diperkirakan mengikuti asesmen nasional tersebut. Pelaksanaan ujian berlangsung dalam dua gelombang hingga awal November.
Perubahan utama TKA tahun ini terletak pada penggunaan pendekatan Item Response Theory (IRT) dua parameter. Metode tersebut mempertimbangkan tingkat kesulitan dan daya pembeda soal untuk memperkirakan kemampuan akademik peserta.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menjelaskan bahwa skor TKA tidak dapat disamakan dengan persentase jawaban benar. Artinya, dua peserta yang menjawab benar dengan jumlah sama belum tentu memperoleh skor identik apabila karakteristik soal yang dikerjakan berbeda.
“Jujur mengerjakan dengan kemampuan sendiri karena hasil yang bermanfaat berawal dari gambaran kemampuan yang sebenarnya,” ujar Toni di Jakarta, Minggu (25/10).
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, juga menjelaskan bahwa perluasan skala nilai bertujuan menggambarkan variasi kemampuan murid secara lebih terperinci.
“Maka dibuatkanlah rentang yang lebih besar supaya variasi yang banyak ini. Karena beda soal yang dijawab benar beda estimasi itu bisa kelihatan ada gradasi perbedaannya,” kata Rahmawati, seperti dikutip dari laporan Jurnas.
Rahmawati menegaskan perubahan skala pelaporan tidak merugikan peserta didik.
“Jadi tidak merugikan seorang siswa pun yang tahun lalu nilainya tinggi ketika dikonversi pelaporannya juga akan selalu tinggi. Yang tahun lalu lebih rendah pasti pelaporannya juga akan menjadi lebih rendah,” ujarnya.
TKA 2026 menggunakan dua moda pelaksanaan, yakni daring penuh dan semi-daring. Moda daring membutuhkan koneksi internet stabil selama ujian, sedangkan moda semi-daring memanfaatkan internet untuk sinkronisasi awal sebelum soal didistribusikan melalui jaringan lokal sekolah.
Kemendikdasmen menyiapkan 50.474 pengawas ruang dan 1.710 penyelia dari berbagai perguruan tinggi untuk mendukung pengawasan ujian.
Gelombang pertama berlangsung pada 26–29 Oktober 2026, sedangkan gelombang kedua dijadwalkan pada 2–5 November 2026. Pemerintah juga menyiapkan penyesuaian jadwal bagi wilayah terdampak bencana maupun kegiatan keagamaan.
Dengan sistem penilaian baru ini, peserta, orang tua, dan sekolah diharapkan memahami bahwa skor TKA merupakan gambaran kemampuan akademik, bukan sekadar jumlah jawaban benar. Hasil asesmen dapat menjadi bahan evaluasi pembelajaran sekaligus informasi pendukung pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.
