Asap Karhutla Merauke Sampai ke Maluku, Emisi Karbon Tembus 35 Juta Ton

Asap karhutla Merauke dilaporkan telah mencapai Maluku/Foto : Dok. Istimewa Asap karhutla Merauke dilaporkan telah mencapai Maluku/Foto : Dok. Istimewa

Ambon, GPriority.co.id – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Merauke, Papua Selatan, diduga terbawa angin hingga Kepulauan Maluku. Di saat yang sama, emisi karbon akibat kebakaran vegetasi di wilayah Papua Indonesia telah melampaui 35 juta ton, menandai besarnya dampak kebakaran di tengah kondisi cuaca kering.

Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengeluarkan peringatan dini potensi kabut asap kategori sedang untuk sejumlah wilayah Maluku pada 23–29 Oktober 2026. Analisis citra satelit Himawari-9 dan pola angin menunjukkan asap diduga bergerak dari arah timur hingga selatan menuju Maluku.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon, Kamari, mengatakan kabut asap sempat menyelimuti sejumlah wilayah pada 22 Oktober 2026.

“Pada tanggal tersebut, wilayah Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Buru, Buru Selatan, Kepulauan Aru, hingga Kepulauan Tanimbar bagian utara sempat diselimuti asap yang cukup tebal pada pagi hari dengan jarak pandang di bawah lima kilometer,” jelas Kamari, Jumat (23/10) lalu.

BMKG juga mencatat 11 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kabupaten Buru. Selain asap yang diduga berasal dari Papua Selatan, kebakaran di Pulau Seram dan Pulau Buru turut berkontribusi terhadap kondisi udara di Maluku.

Sementara itu, NASA melalui publikasi Earth Observatory melaporkan emisi karbon akibat kebakaran di wilayah Papua Indonesia telah melampaui 35 megaton atau 35 juta ton karbon. Angka tersebut merupakan yang tertinggi ketiga dalam catatan yang dibandingkan, setelah 2015 dan 1997, yang juga merupakan tahun dengan kebakaran parah terkait fenomena El Niño.

Kondisi kering akibat El Niño meningkatkan kerentanan vegetasi terhadap kebakaran. Namun, kebakaran juga berkaitan dengan aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan. Karena itu, pencegahan kebakaran dan pengawasan aktivitas pembakaran lahan menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak lingkungan.

BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap menebal, menggunakan masker, dan memperhatikan informasi cuaca terbaru. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian khusus.

Kamari menegaskan, “Bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan pernapasan, sangat dianjurkan untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan,” ujarnya.

Perkembangan kabut asap di Maluku menjadi pengingat bahwa dampak karhutla dapat melintasi batas wilayah. Pengendalian sumber kebakaran di Papua dan daerah terdampak menjadi penting untuk melindungi kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta lingkungan.