Jakarta, GPriority.co.id – Sekitar 70.808 hektare kawasan di 47 taman nasional Indonesia tercatat terbakar sepanjang Januari hingga September 2026 berdasarkan data MapBiomas Fire yang dirangkum dalam bahan pemberitaan.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kelestarian ekosistem serta keberlangsungan hidup satwa liar yang bergantung pada kawasan konservasi.
Lima taman nasional dengan area terbakar terluas meliputi Taman Nasional Wasur di Papua Selatan, Taman Nasional Lorentz di Papua, Taman Nasional Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai di Sulawesi Tenggara, serta Taman Nasional Manupeu Tanah Daru di Nusa Tenggara Timur.
Taman Nasional Wasur mencatat area terbakar sekitar 21.277,79 hektare, disusul Taman Nasional Lorentz seluas 14.344,91 hektare. Kebakaran di Wasur mengancam habitat walabi, kasuari, dan berbagai jenis burung air. Sementara itu, Lorentz menjadi habitat satwa khas Papua, termasuk kanguru pohon dan burung cenderawasih.
Menurut laporan Jubi pada 17 Oktober 2026, Direktur Eksekutif WALHI Papua, Maikel Primus Peuki, menyoroti ancaman kebakaran terhadap kawasan konservasi Wasur.
“Saya mengutip hasil pantauan kita sesuai dengan pernyataan BMKG Wilayah V Jayapura, bahwa Provinsi Papua Selatan mengalami lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan total 573 titik api (hotspot) yang terdeteksi,” kata Maikel Peuki.
Ia juga mengingatkan pentingnya perlindungan kawasan tersebut. “Ini bukan kiamat tetapi kita sendiri yang membuatnya menjadi akhir dari kehidupan di dunia. Berbicara soal lingkungan hidup berarti harus ada keadilan dan pelestarian,” katanya.
Di posisi ketiga, Taman Nasional Gunung Tambora mencatat sekitar 12.127,74 hektare area terbakar. Kebakaran mengancam habitat rusa Timor dan kakatua kecil jambul kuning di kawasan yang menjadi bagian dari Cagar Biosfer Tambora.
Berikutnya, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai mencatat 6.632,85 hektare area terbakar. Kawasan ini memiliki ekosistem rawa, savana, dan mangrove yang mendukung kehidupan berbagai satwa, termasuk anoa, babirusa, dan burung maleo.
Adapun Taman Nasional Manupeu Tanah Daru di Pulau Sumba mencatat sekitar 4.433,53 hektare area terbakar. Kawasan tersebut menjadi habitat kakatua jambul kuning, julang Sumba, dan beragam burung endemik lainnya.
Kebakaran dapat mengurangi ruang hidup, merusak sumber pakan, serta mengganggu tempat berkembang biak satwa. Karena itu, pencegahan karhutla dan pemulihan ekosistem menjadi langkah penting untuk menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.
Upaya pemantauan, penanganan titik api, dan perlindungan kawasan konservasi perlu diperkuat agar kebakaran tidak terus mengancam habitat satwa liar.
