Singapura Ancam Putus 90 Persen Internet RI, Menkomdigi Balas Santai: Tidak Perlu Geram

Menkomdigi Meutya Hafid jawab santai soal ancaman Politikus Singapura, Calvin Cheng Ern Lee yang mengancam akan memutus 90 persen akses Internet RI/Foto : Dok. Fraksi Partai Golkar Menkomdigi Meutya Hafid jawab santai soal ancaman Politikus Singapura, Calvin Cheng Ern Lee yang mengancam akan memutus 90 persen akses Internet RI/Foto : Dok. Fraksi Partai Golkar

Jakarta, GPriority.co.id – Mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, menjadi sorotan setelah menyinggung ketergantungan internet Indonesia terhadap Singapura.

Unggahannya di media sosial X pada Minggu (25/10) memicu perdebatan, hingga Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid memberikan tanggapan tegas.

Persoalan ini mencuat di tengah kebijakan Indonesia mengurangi pasokan gas bumi ke Singapura. Meski demikian, Cheng kemudian menegaskan bahwa negaranya tidak akan memutus konektivitas internet Indonesia.

Melalui akun X @calvinelcheng, Cheng membagikan infografis berjudul Indonesia’s Internet Dependence on Singapore. Infografis tersebut mengklaim sekitar 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia melewati Singapura, termasuk melalui pusat data, layanan komputasi awan (cloud), dan jaringan kabel bawah laut.

Cheng menyertakan pertanyaan singkat, “Cut?” atau “Potong?”, yang memicu reaksi warganet Indonesia. Namun, ia kemudian memberikan klarifikasi mengenai kemungkinan pemutusan jaringan tersebut.

“Kami adalah orang-orang beradab yang taat hukum. Tentu saja kami tidak akan melakukan hal ini,” tulis Cheng dalam unggahan lanjutannya.

Menanggapi polemik tersebut, Meutya Hafid meminta masyarakat tidak terpancing emosi. Melalui akun Instagram pribadinya pada Selasa (27/10), ia menjelaskan bahwa hubungan konektivitas digital kedua negara tidak bisa dilihat dari satu sisi saja.

“Kita tidak perlu geram. Sistem komunikasi kabel laut (SKKL) yang mendarat di Singapura, tidak sampai dengan tiba-tiba. Sebagian besar jalurnya melalui perairan Indonesia,” tulis Meutya, dikutip dari laporan detikINET.

Ia mengingatkan bahwa gangguan terhadap jalur kabel laut tersebut juga berpotensi berdampak besar terhadap konektivitas Singapura.

“Jika terpotong atau dipotong, 80 persen kapasitas konektivitas Singapura juga terancam lumpuh,” jelasnya.

Meutya turut menyoroti besarnya pasar digital Indonesia. Menurutnya, terdapat 267 juta masyarakat Indonesia yang terhubung ke internet. Jumlah pengguna tersebut menjadi salah satu faktor penting bagi perusahaan teknologi global dalam mempertimbangkan investasi di kawasan.

“Penduduk Indonesia jumlahnya 47 kali lipat dari Singapura. 267 juta masyarakat terhubung ke internet. Tanpa angka ini, investor perusahaan teknologi global berpotensi angkat kaki dari Singapura,” tulis Meutya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga infrastruktur digital bersama-sama.

“Kita tidak boleh berpikir kerdil. Infrastruktur digital adalah sektor yang perlu dijaga bersama, tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tapi juga untuk konektivitas global,” tegasnya.

Polemik ini muncul setelah Indonesia mulai mengurangi pasokan gas bumi ke Singapura pada 24 Oktober 2026. Kebijakan tersebut berkaitan dengan prioritas pemenuhan kebutuhan energi domestik.

Perdebatan ini sekaligus menyoroti pentingnya diversifikasi jalur konektivitas internasional Indonesia. Ketergantungan pada satu pusat konektivitas berpotensi menjadi tantangan bagi ketahanan digital nasional.

Karena itu, penguatan infrastruktur kabel laut dan jalur alternatif menjadi langkah penting untuk menjaga kelancaran akses internet sekaligus mengurangi risiko gangguan jaringan di masa mendatang.