Jakarta,GPriority.co.id – Sudah puluhan atau ratusan tahun lamanya kita terbebas dari yang namanya penjajah, namun masih banyak bangunan-bangunan berserajah peninggalan zaman penjajahan yang berdiri kokoh menjadi cagar budaya di Indonesia.
Salah satunya adalah Benteng Belgica, bangunan peninggalan bangsa Portugis yang kemudian dibangun kembali oleh Belanda. Letak Benteng Belgica berada di Kecamatan Neira, Pulau Banda Neira, Provinsi Maluku.
Setelah jatuh ke tangan Belanda, benteng ini digunakan untuk menangkal serangan rakyat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala dari VOC. Selain itu, Benteng Belgica juga difungsikan sebagai markas militer Belanda dan tempat untuk memantau lalu lintas kapal dagang.
Benteng Belgica menjadi ikon wisata Pulau Banda Neira karena letaknya persis berada di tengah-tengah pulau. Benteng Belgica juga memiliki nilai arsitektur yang tinggi dengan bentuk bangunan yang menyerupai Gedung Pentagon, tempat Departemen Pertahanan Amerika Serikat sekarang berdiri.
Sejarah Singkat Benteng Belgica
Pada abad ke-16, Portugis mendirikan sebuah benteng di Pulau Banda Neira, Provinsi Maluku karena letaknya yang strategis untuk keperluan militer. Namun pada tahun 1611, Benteng Belgica dialih fungsikan sebagai markas besar VOC di Maluku atas perintah Jenderal Belanda, Pieter Both.
Benteng Belgica menjadi saksi sejarah pertempuran panjang masyarakat Banda terhadap monopoli perdagangan yang dilakukan VOC atas rempah-rempah di Indonesia Timur.
Kompleks bangunan Benteng Belgica berdenah segi lima dan berada 30 meter di atas permukaan laut. Benteng Belgica memiliki dua lapisan bangunan yang berbeda. Lapisan pertama atau lapisan paling luar berwujud pelataran tebal dan lapisan kedua memiliki sekitar 18 ruangan yang digunakan untuk tempat istirahat para prajurit dan menyimpan amunisi.
Dengan perpaduan antara keindahan Pulau Banda Neira dan arsitektur Benteng Belgica, membuat bangunan yang luar biasa cantik ini ditetapkan menjadi Cagar Budaya Nasional oleh Pemerintah Indonesia, bahkan telah didaftarkan menjadi situs warisan dunia ke UNESCO pada tahun 1995. (Hn.)
