Jakarta,GPriority.co.id-Dalam sebuah reel Instagram yang dikirim kitorangtimur memperlihatkan seorang anak berusia 6 tahun lari dari sukunya karena akan ditumbalkan. Kini sang anak yang sudah besar kembali kepada sukunya yakni Koroway dan mendapat sambutan hangat dari sanak keluarga dan sukunya.
Lantas siapakah Suku Korowai. Dilansir dari Buku Potret Manusia Pohon karya Yohanes Leekito, Suku Korowai merupakan salah satu suku asli yang mendiami beberapa kabupaten di wilayah adat Anim-Ha di Papua bagian selatan. Seperti di Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Asmat dan Kabupaten Mappi.
Suku Korowai merupakan salah satu suku yang hidupnya berpindah-pindah. Meski begitu, mereka tidak bisa berpindah ke lokasi yang bukan hak ulayatnya.
“Setiap penjaga marga atau klien mengetahui batas-batas wilayahnya, sehingga mereka akan saling menjaga batas wilayahnya dan mereka tahu tentang batas ulayatnya antara marga dan klien yang ada,” ungkap Leekito.
Ia mengungkapkan, setiap marga atau klien yang ada di Suku Korowai sudah mengetahui mengenai batas-batas wilayahnya, sehingga ketika meramu dengan mencari makanan seperti sagu, ikan, binatang buruan lainnya tidak keluar dari hak ulayatnya. “Kalau masyarakat asli Suku Korowai mereka sudah saling mengetahui batas wilayahnya, terutama antara marga dan klien. Mereka akan mencari dan membuat rumah di lokasi yang menjadi hak ulayatnya,” tambah Leekito.
Untuk menghindari terkaman binatang buas, Suku Korowai membuat rumah pohon. “Biasanya rumah ketua adat yang paling tinggi,” kata Leekito.
Mengenai kejadian yang menimpa Wawa 14 tahun silam, Leekito dalam video reelnya mengatakan ada kemungkinan dirinya dianggap sebagai penyihir. “Bagi Korowai, jika seseorang jatuh dari rumah pohon atau terbunuh dalam pertempuran maka alasan kematian mereka cukup jelas. Tetapi mereka tidak memahami mikroba dan kuman, jadi ketika seseorang mati secara misterius, mereka percaya itu adalah karena seorang khachua , penyihir lelaki yang datang dari akhirat. Seorang khakhua harus dibunuh dengan cara dimakan. Sebab khakhua sebenarnya adalah orang mati. Memakan mereka dianggap sebagai sistem keadilan terbaik,” jelasnya.
Jadi jelas sudah bahwa Suku Korowai bukanlah kanibalisme seperti yang dibicarakan banyak orang. Mereka juga menghormati penduduk luar yang hadir dan turut menjaga mereka dari terkaman binatang buas. (Hs.Foto: dok.pribadi)
