Jakarta,Gpriority-Diskusi yang digelar Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) dengan tema “Pengalaman Pemerintah Provinsi (Pemprov) dalam mempromosikan dan menyelenggarakan kerjasama perdagangan produk unggulan antar daerah” pada Kamis (6/12) di Hotel Borobudur merupakan salah satu rangkaian acara yang digelar APPSI di dalam rapat kerja.
Hadir dalam acara tersebut Dewan Pakar APPSI, Prof. M. Ryaas Rasyid MA, Ph.D, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan serta Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua APPSI Soekarwo
Dalam paparannya, Anies Baswedan mengatakan, salah satu komponen utama untuk menjaga integritas nasional adalah terintegrasinya perekonomian Indonesia. Karena itu Anies berharap langkah yang sudah dilakukan APPSI beberapa bulan yang lalu bisa disosialiasikan untuk menjaga perekonomian guna mendukung integritas nasional.
Anies juga mengatakan , Pemprov DKI Jakarta terus berusaha untuk menjaga stabilitas harga di wilayahnya, namun ada masalah yang harus dihadapi yakni rantai pasokan pangan. “ 98 persen dari pasokan pangan di DKI tergantung pada daerah pemasok,karena DKI memiliki keterbatasan lahan.
Untuk itulah kami membagi tugas kepada SKPD untuk merumuskan demandnya, dan BUMD untuk melakukan suplainya.Alhamdulillah inflasi dki jakarta relatif terkontrol,” tutur Anies.
Anies juga memaparkan kebutuhan pangan Jakarta dalam setiap harinya, “ beras 2500 sampai 3000 ton. Gula pasie 550 ton,daging ayam 1.000 ton, daging sapi 100 ton, daging babi 500 ton perhari. Sayur mayur 1000 ton, minyak goreng 380 ton. Angka ini dipandang sebagai oportuniti. Dan ini potensi untuk dikembangkan lebih jauh lagi”.
Gubernur Jatim Soekarwo dalam paparannya juga mengatakan kami tidak bisa menyatakan industri di atas 6 karena industri yang kami ambil adalah agro. Terkait dengan industri agro, Soekarwo mengatakan ada minusnya juga yakni di bawang putih dan kedelai. Karena untuk menanam bawang putih tanahnya kurang dan kedelai biaya produksinya lebih mahal daripada jagung.
Soekarwo juga mengatakan, kerjasama yang dilakukan Jatim terkait dengan perdagangan memiliki banyak manfaat, karena perekonomian Jatim naik hingga 38 persen. Neraca perdagangan Jatim dengan Asean juga semakin meningkat pesat. Untuk impor Jatim hanya melakukan 11 persen. Meskipun memiliki prestasi yang cemerlang, Jatim juga memiliki permasalahan yang sama dengan daerah lainnya yakni biaya logistik yang sangat tinggi, sehingga harga yang ditawarkan Jatim relatif lebih mahal dibandingkan daerah lainnya. Untuk itulah Pakde Karwo, begitu biasa disapa, dalam acara ini ingin mencari solusinya.(Hs.foto:Hs)
