Jakarta, GPriority.co.id – Menbud (Menteri Kebudayaan) Fadli Zon, dikabarkan akan mengkaji ulang tarif panggung seni untuk seniman di Indonesia.
Menbud Fadli Zon turut menyoroti tingginya biaya sewa panggung seni yang menghambat seniman nonkomersial untuk memamerkan karyanya, seperti dilansir dari Antara.
“Kami akan membahas ini dengan sejumlah lembaga terkait, termasuk pemerintah provinsi, Jakpro, dan pengelola panggung lainnya. Tidak boleh panggung-panggung seni disamakan tarifnya dengan yang komersial, karena ini akan menghambat akses seniman dan budayawan untuk berkarya,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia juga menganjurkan kebijakan yang lebih inklusif, khususnya di tempat-tempat seperti Taman Ismail Marzuki, untuk memastikan keterjangkauan biaya untuk ekspresi budaya.
Menbud Fadli Zon juga berencana melakukan diskusi dengan para pemangku kepentingan, menekankan bahwa panggung seni harus mengutamakan aksesibilitas daripada keuntungan.
“Kami akan mendorong adanya keleluasaan dalam mengelola ruang seni, untuk menumbuhkan ekosistem budaya yang sehat,” ujarnya saat dialog budaya.
Inisiatif ini menanggapi kekhawatiran yang diutarakan oleh Ratna Riantiarno dari Teater Koma, yang mengkritik biaya sewa yang mahal yang membatasi kreativitas artistik.
“Saya mewakili dunia seni pertunjukan, kami ini butuh tempat. Saya ingin melaporkan semua tempat pertunjukan di seluruh Indonesia milik negara, maintance luar biasa tidak terurus, jadi perlu diperhatikan. Di kota besar saja apalagi kota-kota kecil, yang kami butuhkan untuk tempat seni pertunjukan,” ungkap Ratna di Kementerian Kebudayaan, seperti dilansir dari Detik.
Harga Sewa Diharapkan Lebih Terjangkau
Kedepannya Ratna berharap jika Kemenbud dapat menetapkan harga sewa yang lebih terjangkau untuk para seniman Indonesia.
“Kami disamakan dengan siapa saja, nggak ada perbedaan, seniman atau sekolah swasta yang pakai sewa. Jadi mestinya ada perbedaan perlakuan,” harapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ratna juga mengatakan jika sudah seharusnya Kementerian Kebudayaan dapat bersikap adil bagi para seniman di Indonesia.
“Kalau dibilang apakah bisa hidup dari teater. Saya selama 50 tahun bilang, nggak mungkin. Beda sama film. Sekarang Kementerian Kebudayaan sudah jadi ‘rumah’, semoga akan cukup adil dan beradab,” terangnya.
Foto : Ilustrasi / Freepik
