Jakarta, GPriority.co.id – Program makan bergizi gratis telah berlangsung mulai 6 Januari 2025 kemarin.
Makan bergizi gratis merupakan program inisiasi Presiden Prabowo untuk pemenuhan gizi anak-anak Indonesia.
Program ini juga dilaksanakan untuk mencegah stunting, serta memenuhi gizi ibu hamil dan menyusui.
Dalam pelaksanaannya, susu menjadi salah satu menu yang disediakan dalam rangka pemenuhan gizi dan 4 sehat 5 sempurna.
Namun sayangnya, Indonesia masih kesulitan mendapatkan banyak stok susu karena kekurangan sapi perah.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, mengumumkan rencana impor 200 ribu ekor sapi perah.
Proses impor 200 ribu ekor sapi perah ini ditargetkan hingga akhir 2025 nanti, dalam rangka mendukung program makan bergizi gratis.

Kebijakan baru memungkinkan impor sapi perah dari berbagai negara selain Australia. Pemerintah Indonesia juga telah mempersiapkan lahan peternakan untuk menampung sapi-sapi tersebut.
Bukan sekadar impor, 200 ribu ekor sapi perah ini juga merupakan bagian dari investasi yang mendorong pembangunan pabrik susu segar di Indonesia.
Adapun, sebanyak 160 perusahaan lokal maupun internasional, telah setuju untuk berkomitmen mendukung rencana tersebut.
Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), datangnya 50 ekor sapi perah bunting jenis Frisian Holstein dari Australia diharapkan dapat memperkuat program makan bergizi gratis, begitupun dengan gerakan minum susu.
Dirjen PKH Agung Suganda menyampaikan jika inisiatif ini adalah langkah awal dalam rencana blueprint Kementerian Pertanian untuk menambah 1 juta ekor sapi perah dalam jangka waktu lima tahun mendatang.
Rencana ini juga mencerminkan komitmen sektor swasta dalam mendukung percepatan investasi dan peningkatan populasi sapi perah yang ada di Indonesia.
Susu Ikan Disebut Jadi Alternatif Susu Sapi

Sebelumnya, pemerintah Indonesia juga mengkaji susu ikan untuk menggantikan susu sapi pada program makan bergizi gratis.
Berbeda dari susu pada umumnya, pembuatan susu ikan memerlukan proses yang lebih kompleks. Terlebih, pembuatannya juga membutuhkan teknologi khusus.
Nantinya, ikan segar akan diolah hingga hanya ekstrak proteinnya saja yang diambil. Kemudian ekstrak protein tersebut akan dipecah lebih kecil menjadi asam amino, melalui proses hidrolisis.
Tak hanya sampai disitu, asam amino kembali diproses hingga menyerupai bubuk seperti susu pada umumnya. Setelah menjadi bubuk, barulah susu ikan dicampurkan dengan berbagai nutrisi lain seperti vitamin, mineral, serta lemak sehat hingga menjadi susu ikan yang bergizi.
Rumitnya pembuatan susu ikan, menjadi salah satu alasan pemerintah akhirnya lebih memilih untuk mengimpor sapi perah.
Dikhawatirkan pula, banyak kalangan yang merasa belum biasa dengan rasa susu ikan.
Foto : Ilustrasi/iStock Photos
