Jakarta, GPriority.co.id – Suatu hal yang sulit terjadi di Indonesia, namun dilakukan oleh Perdana Menteri (PM) Mongolia, Luvsannamsrain Oyun-Erdene. Usai gaya hidup mewah anaknya disorot dan bahkan didemo oleh warganya, ia memutuskan untuk mundur dari jabatannya tersebut.
Keputusan tersebut semakin yakin diambil oleh Oyun-Erdene, kala parlemen pun tak memberinya dukungan. Dirinya tidak mendapatkan cukup suara di parlemen untuk mempertahankan jabatannya sebagai PM Mongolia.
Seruan mosi tidak percaya digaungkan sebagai bentuk kepercayaan yang telah hilang kepada Oyun-Erdene. PM Mongolia itu harus mundur saat warga Mongolia unjuk rasa selama berminggu-minggu.
Warga Mongolia merasa geram dengan gaya hidup mewah anak laki-laki Oyun-Erdene yang diketahui berusia 23 tahun. Hal ini berawal dari unggahan video lamaran pernikahan mewah anak Oyun-Erdene.
Ia menggunakan helikopter, cincin kawin berharga fantastis, tas branded, hingga mobil mewah dalam acara tersebut. Warga Mongolia pun bertanya-tanya terkait sumber kekayaannya. Padahal saat masa kampanye, Oyun-Erdene mengaku berasal dari keluarga pedesaan yang sederhana.
Kendati demikian, Oyun-Erdene membantah tunduhan adanya praktik korupsi selama ia menjabat. Ia menyebut hal tersebut hanya fitnah dari oknum tak bertanggung jawab.
Padahal, kini Mongolia tengah dihadapkan pada masalah korupsi yang mengakar. Dilansir dari laman Transparency International, Mongolia berada pada posisi 114 dari 180 dengan Indeks Persepsi Korupsi di tahun 2024, di masa kepemimpinan Oyun-Erdene.
Warga Mongolia juga memprotes kenaikan biaya hidup serta ketimpangan ekonomi. Mereka menilai banyak pejabat yang mengambil keuntungan dari sektor tambang batu bara untuk keperluan pribadi.
Walau sudah menyatakan mundur, namun Oyun-Erdene tetap akan menyelesaikan tugasnya sebagai PM Mongolia hingga ditemukan penggantinya, paling lambat dalam 30 hari setelah dirinya menyatakan mundur.
Melalui pernyataannya, Oyun-Erdene mengaku bangga telah melayani Mongolia di masa sulit. Diantaranya seperti saat pandemi, perang tarif, hingga krisis ekonomi.
Foto : Dok. Mongolia Government
