Emas Muncul Kala Sungai Efrat Mengering, Ucapan Rasulullah Akan Jadi Kenyataan?

Warga suriah beramai-ramai mengambil pirit yang disebut sebagai emas palsu/Foto : Dok. ART Warga suriah beramai-ramai mengambil pirit yang disebut sebagai emas palsu/Foto : Dok. ART

Suriah, GPriority.co.id – Krisis kemanusiaan terjadi di Suriah baru-baru ini. Namun di tengah ironi ini, emas dilaporkan muncul saat Sungai Efrat mengering.

Fenomena Sungai Efrat mengering karena perubahan iklim. konflik politik, serta berkurangnya curah hujan. Akibatnya, 16 juta warga Suriah terancam di tahun ini. 90 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan, sementara 70 persen petani tak mampu membeli benih, pupuk, hingga bahan bakar.

Ditambah lagi, harga pangan meningkat 140 persen dalam setahun terakhir, dan menyebabkan ketersediaan pupuk hanya sebesar 20 persen.

Dalam Islam, mengeringnya Sungai Efrat dan munculnya emas, menjadi pertanda bahwa kiamat akan terjadi.

Kiamat tidak akan terjadi sampai Eufrat mengering sehingga munculah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan akulah orang yang selamat.‘” (HR. Muslim no. 2894).

Dilansir dari JFeed, ternyata munculnya emas saat Sungai Efrat mengering, tidak benar. Batu-batu berkilauan yang muncul di tepi sungai tersebut merupakan logam mulia melainkan pirit, mineral yang diklaim sebagai emas palsu.

Pirit memang memiliki kilauan yang menyerupai emas. Senyawa berbasis sulfur, pirit dibutukan oleh industri untuk memproduksi asam sulfat serta sebagai penghantar listrik. Bukan sebuah keberuntungan, warga sekitar mengumpulkan pirit guna bertahan hidup di tengah krisis yang dihadapi.

Faktanya, Sungai Efrat yang memiliki panjang 2.800 km ini, merupakan sungai terpanjang di Asia Barat. Terletak di sudut tenggara Turki, sungai ini mengalir melalui Suriah dan Irak sebelum ‘bertemu’ dengan Sungari Tigris dan berakhir di Teluk Persia.

Sungai ini menjadi andalan bagi populasi manusia di sekitarnya untuk kegiatan sehari-hari. Sungai ini menjadi sumber air penting bagi wilayah tersebut.

Fenomena mengeringnya Sungai Eufrat bukan hanya disebutkan di Al-Qur’an, tetapi juga di Al-Kitab. Terkenal dengan kesuburan dan kelimpahannya, beberapa orang percaya jika sungai ini mengering, maka pertanda Tuhan sedang murka kepada penduduk di wilayah tersebut.

Namun menurut Profesor Hemathi Ranasinghe yang merupakan profesor ilmu lingkungan dari Universitas Jayawardenepura Sri Lanka menyebut, mengeringnya Sungai Efrat disebabkan oleh aktivitas manusia, bukan hukuman Tuhan.

“Penting untuk diingat bahwa murka Tuhan tidak menyebabkan bencana alam. Bencana hanyalah akibat interaksi alam dengan aktivitas manusia,” ungkapnya.