Amerika Serikat, GPriority.co.id – Pil KB pria tanpa efek samping lolos uji lab untuk pertama kalinya di dunia. Diberi nama YCT-529, pil ini disebut sebagai ‘era baru kontrasepsi’.
Menurut laporan yang dikutip dari New York Post pada Kamis (21/8), saat ini YCT-529 sedang di uji klinis dan para ahli berharap dapat dipasarkan pada akhir dekade.
Tidak seperti pil KB tradisional yang menganggu hormon, pil YCT-529 hasil eksperimen dari YourChoice Therapeutics ini menghentikan sementara produksi sperma tanpa mempengaruhi kadar testosteron.
Pil tersebut bekerja dengan cara memblokir protein yang disebut reseptor asam retinoat alfa, yang berperan penting dalam proses pembentukan sperma. Pada saat di uji di tikus jantan, YCT-529 secara drastis mengurangi produksi sperma dan menyebabkan infertilitas reversibel hanya dalam waktu empat minggu.
Ketika tikus jantan yang sudah diberi pil dikawinkan dengan tikus betina, obat tersebut terbukti 99 persen efektif dalam mencegah kehamilan. Hasil serupa juga terlihat pada primata nonmanusia jantan yang jumlah spermanya turun dalam waktu dua minggu setelah memulai pengobatan.
Hebatnya, kedua hewan tersebut kembali subur sepenuhnya setelah menghentikan obat, dan tikus percobaan pulih dalam waktu enam minggu. Sementara, primata pulih dalam waktu 10 hingga 15 minggu. Menurut laporan, juga tidak ada efek samping yang dilaporkan pada kedua kelompok.
Pil KB pria ini juga telah di uji coba ke manusia, dengan melibatkan 16 pria sehat berusia antara 32 sampai 59 tahun, dan semuanya telah menjalani vasektomi, prosedur pembedahan yang memotong dan memblokir saluran yang membawa sperma dari testis, untuk mencegah kehamilan.
Setelah menguji beberapa dosis, para peneliti tidak menemukan efek samping yang mengkhawatirkan, termasuk tidak adanya perubahan pada detak jantung, kadar hormon, peradangan, hingga fungsi seksual atau suasana hati.
Perkembangan terbarunya, saat ini pil KB pria YCT-529 tersebut sedang diuji kembali dengan melibatkan 50 pria yang telah menjalani vasektomi atau memutuskan untuk tidak menjadi ayah.
Selama 28 hari dan 90 hari, mereka akan minum dengan dosis yang berbeda. Sementara para peneliti akan memantau keamanannya dan melihat seberapa baik pil tersebut bekerja untuk menghentikan produksi sperma.
Para peneliti memperkirakan pengujian ini akan berakhir pada pertengahan tahun 2026, dan tersedia dalam beberapa tahun lagi.
